KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) tergelincir pada akhir perdagangan Selasa (22/5/2018) atau Rabu pagi WIB, setelah diperdagangkan di kisaran level tertingginya dalam hampir 3,5 tahun.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juni 2018, yang berakhir pada Selasa, turun 11 sen atau 0,15% dan ditutup di level US$72,13 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah sempat menyentuh level US$72,83. Adapun harga untuk kontrak Juli turun 15 sen ke level US$72,20.

Sementara itu WTI kontrak Juli pada perdagangan hari ini, rabu (23/5/2018) dibuka  melemah US$0,09 atau 0,12% ke US$72.11 per barel.

Di sisi lain, harga minyak Brent untuk pengiriman Juli mampu naik 35 sen atau 0,44% dan ditutup di US$79,57 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$7,37 terhadap WTI Juli.

Penguatan minyak WTI sebelumnya didorong sanksi baru terhadap Venezuela serta menyusutnya persediaan minyak mentah AS yang memicu kekhawatiran tentang pengetatan pasokan di seluruh dunia.

Sanksi terbaru Presiden Donald Trump terhadap rezim pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dapat lebih mencekik industri minyak negara Amerika Latin tersebut yang pada dasarnya sudah terbebani.

Harga minyak AS kemudian tergelincir pada akhir perdagangan, padahal American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 1,33 juta barel pekan lalu.

Data pemerintah AS yang akan dirilis hari ini, Rabu (23/5/2018), diperkirakan akan menunjukkan penurunan stok untuk pekan ketiga berturut-turut, yang akan menjadi penurunan terpanjang sejak Januari.

“Gambaran fundamental terus menunjukkan tanda-tanda pengetatan,” kata Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy. “Ketidakpastian terkait masalah geopolitik juga berkontribusi terhadap reli [minyak].”

Minyak diperdagangkan pada level tertingginya sejak akhir 2014 akibat konflik Timur Tengah, sanksi AS terhadap Iran, dan anjloknya produksi Venezuela yang meningkatkan kekhawatiran seputar pasokan. Sementara itu, OPEC dan aliansinya telah membatasi produksi sejak awal tahun 2017 demi menopang harga minyak.

Tetap saja, beberapa pedagang berhati-hati tentang bagaimana reli minyak akan bertahan lama, mengingat kelemahan dalam spread antara kontrak berjangka yang dipatok terhadap bulan berbeda.

OPEC bisa saja meningkatkan produksi minyaknya pada Juni akibat kekhawatiran tentang produksi di Venezuela berikut potensi kekurangan pasokan di Iran, menurut laporan Reuters, mengutip OPEC dan sejumlah pelaku industri minyak.

“Itu artinya persediaan menurun sedikit lebih lambat daripada yang dipikirkan,” ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, seperti dikutip Bloomberg.

KONTAK PERKASA FUTURES