KONTAK PERKASA FUTURES  – Harga minyak mentah melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melanjutkan kritiknya terhadap OPEC karena telah membuat harga minyak mendekati level US$80 per barel awal pekan ini.

Harga minyak Brent untuk pengiriman November turun 0,9% atau 0,70 poin ke level US$78,70 per barel di ICE Futures Exchange yang berbasis di London. Kontrak tersebut diperdagangkan lebih tinggi US$8,38 dibanding WTI untuk bulan yang sama.

Harga minyak Brent telah menguat 6,3% sejak Trump pertama kali ‘berkicau’ tentang OPEC pada 20 April di akun Twitter-nya.

Sementaa itu, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober ditutup melemah 0,5% atau 0,32 poin ke level US$70,80 per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak November yang lebih aktif diperdagangkan merosot 0,45 poin ke level US$70,32.

Dilansir Bloomberg, Donald Trump mengatakan pada akun Twitternya bahwa OPEC dan negara Timur Tengah harus menghentikan monopoli dan membuat harga minyak mentah turun.

“Kami melindungi negara-negara Timur Tengah, mereka tidak akan aman untuk waktu yang lama tanpa kami, namun mereka terus mendorong harga minyak yang lebih tinggi dan lebih tinggi! Kami akan ingat. Monopoli OPEC harus menurunkan harga sekarang!,” ungkap Trump pada akun Twitter-nya.

Pernyataan Trump di pasar minyak menyusul dari Arab Saudi bahwa harga minyak US$80 adalah harga yang dapat diterima karena Iran semakin terisolasi karena sanksi AS. OPEC dan negara produsen lain akan bertemu di Aljazair akhir pekan ini untuk membahas target produksi.

“Akankah dia (Trump) mendapatkan apa yang dia inginkan? Mungkin tidak,” kata Rob Haworth dari US Bank Wealth Management, seperti dikutip Bloomberg. “Ada ruang bagi OPEC untuk tumbuh dan mungkin mengimbangi penurunan produksi Iran. Pada sisi negatifnya, minyak kehilangan produksi di Iran dan Venezuela.”

“Ada harapan bahwa tekanan AS akan memaksa OPEC untuk meningkatkan produksi, tetapi masih harus dilihat apakah itu akan bertahan,” kata Ashley Petersen, analis pasar minyak senior di Stratas Advisors.

Arab Saudi telah secara nyata meningkatkan ekspor minyak AS, yang menjadi tanda bahwa produsen utama OPEC ini menanggapi tekanan dari Trump. Data impor awal dari Energy Information Administration menunjukkan Saudi mengirim 1,013 juta barel per hari ke AS selama empat pekan terakhir, terbesar sejak Juni 2017.

Serangan pertama presiden terhadap Organisasi negara-negara pengekspor minyak tersebut terjadi pada 20 April, hanya beberapa jam setelah Menteri Perminyakan Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan OPEC akan melanjutkan pemotongan produksi.

Dalam waktu satu bulan, Saudi telah melakukan kebijakan yang berlawanan dan pada bulan Juni OPEC dan sekutu-sekutunya menjanjikan untuk menambah produksi hingga 1 juta barel per hari.

Sementara itu, OPEC mengatakan pada bulan Juli untuk berkonsultasi dengan pengacara dan menyiapkan strategi untuk melakukan pembelaan terhadap RUU AS yang dapat membuat OPEC menghadapi tuntutan hukum antitrust

Sebelumnya, Arab Saudi sebelumnya merekrut mantan Pengacara Umum Ted Olson sebagai pelobi untuk berkampanye menentang RUU “NOPEC” tersebut.

KONTAK PERKASA FUTURES