KONTAK PERKASA FUTURES | Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah tipis pada perdagangan Rabu (21/3/2018), meski sempat berfluktuasi setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga AS, sementara kenaikan kuat sektor energi membantu membatasi pelemahan .

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 44,96 poin atau 0,18% ke 24.682,31, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 kehilangan 5,01 poin atau 0,18% ke 2,711.93 dan Nasdaq Composite turun 19,02 poin atau 0,26% ke 7.345,29.

Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve menaikkan suku bunga dan memperkirakan setidaknya dua kenaikan lagi untuk 2018, menyoroti kepercayaan yang semakin meningkat terhadap pemotongan pajak dan belanja pemerintah yang akan meningkatkan ekonomi dan inflasi.

Dalam pertemuan kebijakan pertama di bawah Gubernur baru, Jerome Powell, The Fed menunjukkan bahwa inflasi akhirnya akan bergerak lebih tinggi setelah bertahun-tahun berada di bawah target 2% dan ekonomi akan mendapatkan momentum.

“Itu adalah Fed yang benar-benar merasa positif terhadap ekonomi, bukan hanya tahun ini tetapi juga tahun depan,” kata Jim Paulsen, kepala analis investasi di The Leuthold Group di Minneapolis, seperti dikutip Reuters.

“Tanggapan awal oleh saham positif karena kepercayaan the Fed dalam ekonomi. Tetapi dengan imbal hasil obligasi naik, semacam memberikan ketakutan terhadap pasar saham,” lanjutnya.

Sektor finansial, yang mendapat manfaat dari lingkungan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, sempat menguat setelah pengumuman suku bunga, namun kembali melemah dan ditutup  turun 0,03%.

Sektor lain yang juga sensitif terhadap suku bunga acuan berada di bawah tekanan, seperti sektor utilitas turun 0,39%, sedangkan sektor real estat turun 0,93%.

Saham berfluktuasi menyusul pengumuman the Fed, setelah imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun juga bergerak mendekati 3%, menyentuh level tertinggi satu bulan di posisi 2,936%.

Sementara itu, sektor energi melonjak 2,63% dan membantu mengangkat ekuitas setelah harga minyak mentah mencapai level tertinggi enam pekan karena penurunan mendadak dalam persediaan minyak AS dan adanya kekhawatiran atas kemungkinan gangguan terhadap pasokan di Timur Tengah.

KONTAK PERKASA FUTURES