Kontak Perkasa Futures  | Kenaikan tak terduga pada persediaan minyak mentah di Amerika Serikat (AS) lebih lanjut menekan harga minyak AS pada perdagangan after market (Rabu pagi WIB).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember diperdagangkan di US$55,14 per barel pada pukul 4.38 sore waktu setempat, setelah pada perdagangan Selasa (14/11) berakhir di posisi 55,70 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari pada perdagangan Selasa ditutup melemah 95 sen di US$62,21 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Bursa minyak di New York melemah dalam perdagangan after market, setelah data yang dirilis American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan stok minyak mentah AS sebesar 6,51 juta barel pekan lalu.

Angka tersebut akan menjadi yang terbesar sejak Maret, jika data yang dirilis Energy Information Administration (EIA) hari ini waktu setempat mengonfirmasikannya.

Laporan API juga menunjukkan peningkatan stok bensin sebesar 2,4 juta barel pekan lalu, sedangkan persediaan di Cushing turun 1,8 juta barel.

“Hal itu akan sedikit meredam prospek bullish. Saya berasumsi bahwa ekspor minyak mentah tetap sangat rendah untuk pekan kedua berturut-turut,” ujar Kyle Cooper, Direktur riset IAF Advisors, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/11/2017).

Harga minyak turun selama sesi perdagangan sebelumnya setelah International Energy Agency (IEA) menuturkan bahwa pemulihan harga minyak baru-baru ini, ditambah dengan cuaca musim dingin yang lebih ringan dari biasanya, memperlambat pertumbuhan permintaan.

Prospek konsumsi yang memburuk pun membebani antusiasme bahwa OPEC dan sejumlah negara non-OPEC akan memperpanjang upaya pembatasan pasokan.

Menurut IEA, pada tahun 2025, pertumbuhan produksi minyak Amerika akan setara dengan yang dicapai oleh Arab Saudi pada puncak ekspansinya.

“Beberapa investor mulai sedikit khawatir dalam hal dampaknya terhadap pasokan, terutama di Amerika Utara, jika harga di kisaran pertengahan US$50,” kata Michael Loewen, pakar strategi komoditas di Scotiabank.

IEA menurunkan proyeksi permintaan untuk tahun depan sebesar 200.000 barel per hari menjadi 98,9 juta per hari. Perkiraan untuk pertumbuhan permintaan tahun depan turun 100.000 barel per hari menjadi 1,3 juta per hari.

“Keseimbangan pasar pada 2018 tidak terlihat seketat yang diharapkan beberapa orang, dan sebenarnya tidak ada hal normal baru yang akan menopang harga di atas US$60,” papar badan energi yang berbasis di Paris tersebut.

 

Kontak Perkasa Futures