Kontak Perkasa Futures  | Harga minyak mentah melemah di hari kedua berturut-turut pada Rabu, (13/12/2017) karena kemerosotan stok minyak mentah AS diimbangi oleh kenaikan persediaan bensin yang lebih besar dari perkiraan.

kemudian Harga minyak West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Januari 2018 ditutup melemah 0,95% atau 0,54 poin ke level US$56,60 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak patokan Brent untuk kontrak Februari 2018 ditutup melemah 0,87% atau 0,55 poin ke level US$62,79 per barel di ICE Futures Exchange yang berbasis di London.

Dilansir dari Reuters, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS pekan lalu turun 5,1 juta barel, melebihi perkiraan yang di bayangkan , sementara produksi mencapai rekor tertinggi sebesar 9,78 juta barel per hari (bph).

Di sisi lain, jumlah cadangan bensin AS melonjak 5,7 juta barel, lebih dari dua kali lipat dibanding ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan hanya 2,5 juta barel.

“Ini menjadi semacam sentimen campuran di seluruh pasar, penurunan minyak mentah yang sedikit lebih besar dari perkiraan namun permintaan bensin (juga) turun sedikit. Biasanya di akhir tahun ini permintaan sedikit lebih banyak,” kata Tariq Zahir dari Tyche Capital Advisors, seperti dikutip Reuters

Sementara itu, minyak Brent melemah juga karena ada nya gelombang aksi ambil untung setelah penutupan yang tidak direncanakan dari jaringan pipa Forties North Sea awal pekan ini membantu mendorong minyak patokan global tersebut di atas US$65 untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2015.

Walaupun penutupan jaringan pipa tersebut telah mendorong penguatan harga minyak,Tapi  keuntungan awal di pasar global cepat berkurang karena pasar global cenderung masih kelebihan pasokan dan output AS masih meningkat.

“Fakta bahwa pasar terdampak profit taking setelah penutupan pipa di Forties menunjukkan bahwa pasar masih berjuang menuju tren penguatan harga. Sekarang, pada dasarnya kita berada di level yang sama satu bulan lalu,” kata Olivier Jakob dari konsultan Petromatrix.