PT Kontak Perkasa | Pergerakan harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) ditutup di atas US$62 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun pada perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB).

Capaian itu, menyusul laporan menyusutnya stok minyak mentah AS sejak periode berkendara musim panas Agustus tahun lalu.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari berakhir menguat 38 sen di US$62,01 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Maret ditutup naik 23 sen di US$68,07 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, level tertinggi sejak Desember 2014.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan jumlah persediaan minyak mentah Amerika tergelincir 7,42 juta barel pekan lalu, setelah para penyuling menaikkan tingkat operasi ke level tertinggi lebih dari satu dekade, menyusul meningkatnya permintaan.

Persediaan minyak mentah telah berkurang selama tujuh pekan berturut-turut yang mengejutkan para analis.

“Jumlah persediaan minyak mentah cukup sehat dibandingkan dengan konsensus. Pasar optimistis bahwa ada dorongan di balik harga minyak mentah mendasar,” ujar Brian Kessens di Tortoise Capital Advisors LLC, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/1/2018).

Laporan EIA menunjukkan, jumlah persediaan minyak mentah AS turun menjadi 424,5 juta barel pekan lalu, sementara pasokan minyak sulingan naik sekitar 8,9 juta barel, terbesar sejak Desember 2016.

Para penyuling di AS meningkatkan operasi untuk pekan ketiga berturut-turut, yang berkontribusi terhadap penurunan pasokan minyak. Stok di pusat pipa utama negara di Cushing turun menjadi sekitar 49 juta barel.

“Investor memiliki sentimen positif tentang pasar pada saat ini. Anda melihat sedikit lebih banyak dorongan bullish pada harga minyak. Suplai mulai seimbang dan faktor permintaan pastinya meningkat di penjuru dunia,” kata Mark Watkins, manajer investasi regional yang berbasis di Utah di US Bank Wealth Management.

Harga minyak telah meningkat seiring dengan upaya Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan Rusia untuk mengurangi persediaan global melalui pembatasan output serta di tengah kekhawatiran atas stabilitas produsen terbesar ketiga kelompok tersebut, yakni Iran, akibat tensi domestik.