PT KONTAK PERKASA FUTURES – Direktur Consumer Banking Bank BTN Budi Satria menilai sektor properti berpotensi menjadi andalan pertumbuhan ekonomi 2020 yang diproyeksi mencapai 5,1-5,5%. Bank Indonesia (BI) akan mengambil kebijakan relaksasi LTV maupun FTV dengan kelonggaran rasio 5 persen untuk kredit properti dan properti berwawasan lingkungan pada 2 Desember 2019.

Pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) menjadi 5,25% atau turun sebesar 25 basis poin (bps) didukung oleh relaksasi Loan to Value (LTV) dan Finance to Value (FTV) untuk pembiayaan kepemilikan properti, baik rumah tapak maupun rumah tinggal dan Rumah Kantor (Rukan) dan Rumah Toko (Ruko).

Kebijakan Bank Indonesia secara bersamaan ini diharapkan dapat membuat uang muka yang dibayar debitur atau properti lainnya berkurang. Semakin longgar, maka makin kecil uang muka atau Down Payment (DP) yang disediakan konsumen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatkan bahwa BI akan melonggarkan LTV untuk kredit properti sebanyak 5 persen. Sementara itu, bagi properti berwawasan lingkungan juga akan diberikan tambahan keringanan rasio LTV/FTV sebesar 5 persen. Relaksasi baik LTV maupun FTV yang mulai berlaku efektif akhir tahun ini atau pada 2 Desember 2019.

Direktur Consumer Banking Bank BTN Budi Satria mengatakan, Kebijakan BI tersebut mempermudah masyarakat untuk mengakses pembiayaan perumahan dengan memperbesar LTV untuk pembelian rumah kedua dan seterusnya, dan membebaskan LTV untuk rumah pertama. Menurutnya kebijakan BI patut diapresiasi karena saat ini pembelian properti agak melandai dan berdampak pada penyaluran KPR khususnya KPR non subsidi.

Sinyal perlambatan pertumbuhan properti sudah terlihat pada Juli sehingga BI mengambil kebijakan relaksasi LTV. Budi juga menilai sektor properti berpotensi menjadi andalan pertumbuhan ekonomi 2020 yang diproyeksi mencapai 5,1-5,5%.

“Relaksasi LTV ini akan berpengaruh tidak hanya bagi pembeli rumah pertama, tapi juga investment buyers karena dapat dengan mudah dan cepat membeli properti kedua, ketiga, dan seterusnya untuk dijadikan portofolio investasinya,” katanya.

Selain mempermudah konsumen, hal ini juga membantu developer karena penjualan rumah menjadi lebih mudah. Sebelumnya pada Juni 2018, pengembang juga lebih mudah mendapatkan pencairan kredit dengan memberikan persyaratan yang lebih terutama pembelian rumah inden dengan KPR inden.

“Pengembang mendapat pencairan kredit lebih cepat dan mudah, penjualan rumah lebih lancar sehingga likuiditas developer lebih baik,” katanya.

Budi juga memproyeksikan pada 2020 ketika relaksasi LTV mulai berdampak, maka Bank BTN sudah siap untuk merangkul BUMN, maupun swasta untuk bekerjasama mengembangkan strategi promosi yang makin memudahkan masyarakat berinvestasi di segmen properti.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Development Archied Noto Pradono mengatakan, pelonggaran kebijakan tersebut membuat pengguna LTV bisa meningkat dan menarik bagi calon pembeli untuk segera membeli properti.

“Dengan adanya aturan tersebut diharapkan bisa meningkatkan jumlah pengguna, minat, dan daya beli properti masyarakat,” tekannya.

Berdasarkan Analisis Uang Beredar yang dirilis BI, pertumbuhan kredit properti melambat per Juli 2019 hanya tumbuh 15,9% year of year (yoy), sementara bulan Juni tumbuh 16,2% (yoy). Pertumbuhan kredit properti diperlambat oleh rendahnya pertumbuhan KPR dan KPA. Per Juli 2019, KPR dan KPA tumbuh 12,3 % (yoy) melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 12,8 % (yoy).

PT KONTAK PERKASA FUTURES