PT Kontak Perkasa Futures – Kinerja indeks reksa dana saham sepanjang 1-26 Januati 2018 mencapai 5,17% atau lebih tinggi dari IHSG yang naik 4,8% secara year-to-date.

Dari data yang dirilis Infovesta Utama, per 26 Januari lalu return yang dihasilkan reksa dana saham tercatat sebesar 5,17%.

Imbal hasil tersebut mampu melampaui rata-rata indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tercatat sebesar 4,8% year to date per 26 Januari lalu.

Head of Investment Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, keberhasilan reksa dana saham melampaui IHSG disebabkan karena adanya pergerakan saham-saham second liner, di mana manajer investasi banyak memasukkan dana kelola di sini.

Tahun lalu, kata Wawan, pergerakan IHSG dikendalikan oleh saham-saham blue chip yang meningkat cukup tajam. Sedangkan saham second liner pada tahun lalu terkesan pasif sehingga imbal hasil reksa dana saham juga tidak terlalu signifikan.

“Tahun ini, terutama satu pekan terakhir saham second liner mulai bergerak. Kemudian saham blue chip tahun lalu sudah meningkat cukup tinggi. Jadi ada pergantian karena tahu lalu second liner tidak bergerak,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (29/1/2018).

Saham second liner, imbuhnya, ditopang oleh sektor komoditas, di mana dalam beberapa pekan terakhir cukup menggembirakan. Apalagi, belum lama ini Indonesia telah memenangkan sengketa biodiesel dengan Uni Eropa setelah organisasi perdagangan dunia melihat Eropa tidak konsisten dengan peraturan Perjanjian Anti Dumping WTO.

Menurutnya, ini akan berdampak positif pada emiten eksportir kelapa sawit, sehingga penguatan saham second liner akan berlanjut. Setidaknya, kata Wawan, hingga berakhirnya kuartal I/2018 pertumbuhan reksa dana saham masih berpotensi melampau IHSG.

“Kalau ini terus dijaga tentu saham second liner akan diburu dan imbal hasil reksa dana saham akan terus meningkat. Apalagi tidak lama lagi akan ada katalis positif seiring penerbitan laporan keuangan perusahaan,” jelasnya.

Wawan menambahkan, kondisi berbeda kemungkinan akan terjadi saat memasuki kuartal II/2018. Penyebabnya, adanya kemungkinan penurunan kinerja perseroan yang dilihat dari laporan keuangan serta pembagian dividen.

Setelah laporan keuangan dan dividen dirilis, imbuhnya, maka akan ada aksi ambil untung alias profit taking pada kurun waktu April-Mei. Selain itu, faktor lain adalah kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan. Inilah yang akan berdampak negatif pada imbal hasil reksa dana saham.

“Tapi secara total pada 2018 IHSG dan reksa dana saham akan bisa kembali positif,” ujarnya.

PT Kontak Perkasa Futures