PT KONTAK PERKASA  – Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) kompak terpelanting lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (4/12/2018).

Merosotnya indeks saham tersebut didorong pelemahan saham bank dan industri, saat pasar obligasi AS mengirimkan tanda-tanda mengganggu tentang pertumbuhan ekonomi dan investor kembali mengkhawatirkan perdagangan global.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 3,1% atau 799,36 poin di level 25.027,07, indeks S&P 500 terjungkal 3,24% atau 90,31 poin di 2.700,06, sedangkan indeks Nasdaq Composite berakhir terpelanting 3,8% atau 283,09 poin di level 7.158,43.

Indeks S&P 500 membukukan persentase penurunan harian terbesarnya dalam sekitar dua bulan, sekaligus mengikis sebagian kenaikan yang mampu dibukukan pada perdagangan Senin (3/12) dan sepekan sebelumnya.

Fokus para investor tertuju pada imbal hasil obligasi AS, dimana imbal hasil bertenor 10 tahun turun ke titik terendahnya sejak pertengahan September.

Spread antara imbal hasil bertenor 10 tahun terhadap tenor dua tahun juga menyusut ke yang terkecil dalam lebih dari satu dekade. Ini menjadi hal yang dicermati karena apa yang disebut “inversi” kurva imbal hasil mengawali semua resesi dalam 50 tahun terakhir.

Sebagian dari kurva itu memang membalik, dengan imbal hasil obligasi bertenor dua tahun dan tiga tahun bertahan di atas imbal hasil lima tahun untuk hari kedua.

“Ini adalah kekhawatiran tentang kurva imbal hasil yang terinversi, apa artinya bagi perekonomian dan merupakan awal untuk resesi,” kata Chuck Carlson, chief executive officer di Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, seperti dilansir Reuters.

Padahal, Wall Street mampu menguat pada perdagangan Senin (3/12) menyusul ‘gencatan senjata’ yang disepakati antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping terkait konflik perdagangan mereka setelah melalui pembicaraan di sela-sela KTT G20 di Argentina akhir pekan kemarin.

Namun, optimisme investor atas tercapainya resolusi menyurut pada hari Selasa (4/12). Trump sendiri memperingatkan dia akan kembali mempertimbangkan tarif jika kedua belah pihak tidak dapat menyelesaikan perbedaan-perbedaan.

“Aksi jual yang telah kita lihat sepanjang hari ini benar-benar tentang mencermati pembicaraan tarif dan menyadari bahwa tidak ada yang diselesaikan,” kata Delores Rubin, pedagang ekuitas senior di Deutsche Bank Wealth Management di New York.

“Masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan dan sebagian euforia yang kita rasakan kemarin lebih karena pemberitaan ketimbang substansi.”

Saham finansial, yang sangat sensitif terhadap perubahan pasar obligasi, turun 4,4%. Adapun sektor industri yang sensitif terhadap isu perdagangan turun 4,4%, dengan saham Boeing dan Caterpillar masing-masing melemah 4,9% dan 6,9%.

Komentar dari seorang pejabat Federal Reserve tentang arah kenaikan suku bunga menambah ketidakpastian bagi investor, seperti halnya kemunduran bagi rencana Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa.

Pada Selasa (4/12), Presiden Fed New York John Williams mengatakan bank sentral AS tersebut akan berharap untuk terus menaikkan suku bunga “pada tahun depan atau lebih” bahkan ketika mencermati risiko yang mungkin disorot oleh pasar keuangan.

Komentar itu muncul setelah pernyataan yang disampaikan Gubernur Fed Jerome Powell pekan lalu, yang mengangkat saham karena ditafsirkan menunjukkan jalur kenaikan suku bunga yang kurang agresif.

PT KONTAK PERKASA