PT Kontak Perkasa  – Kendati terus melemah, pasar obligasi Indonesia diyakini akan segera membaik dan menerima arus masuk investasi asing lagi begitu pasar investasi global kembali mencapai level keseimbangan baru.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pasar obligasi Indonesia akan cenderung melemah selama beberapa pekan ke depan selama sentimen global perbaikan ekonomi Amerika Serikat terus meningkat.

Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, tekanan yang terjadi hanya bersifat sementara saja selama gejolak di eksternal cukup tinggi. Investor asing yang melakukan aksi jual cenderung segera kembali ke Indonesia setelah gejolak pasar global mereda.

Hal ini disesbabkan karena secara fundamental kondisi dalam negeri Indonesia cukup kuat dan didukung peringkat surat utang yang baik pula, yakni layak investasi. Di sisi lain, imbal hasil yang ditawarkan masih sangat tinggi.

Dari tahun ke tahun, investor asing selalu tercatat net buy di pasar surat utang Indonesia, meskipun di bulan-bulan tertentu mencatatkan net sell. Hanya saja, sulit untuk memprediksi dengan pasti kapan pasar akan membaik dan tekanan yang terjadi saat ini mereda.

“Investor pasti akan balik lagi ke sini, terbukti selama ini setelah keluar mereka selalu masuk lagi karena sebetulnya pasar kita menarik. Fundamental kuat, inflasi terjaga, pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, sementara pelemahan yang terjadi pada rupiah lebih karena faktor eksternal,” katanya, Minggu (11/3/2018).

Adapun, Hingga Jumat (9/3/2018), indeks obligasi komposit Indonesia atau ICBI sudah melemah 0,89% year to date. Sepanjang pekan lalu, ICBI melemah 0,68% week on week.Sementara itu, Per Kamis (8/3/2018) kepemilikan investor asing pada instrumen surat berharga negara (SBN) tradable sudah turun Rp4,37 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2017.

Net sell asing per bulan pada awal Maret sudah mencapai Rp16,44 triliun, sedangkan pada Februari net sell mencapai Rp21,55 triliun. Ini sudah melampaui angka net buypada Januari yang sebesar Rp33,62 triliun. Peningkatan pada Januari ini terdorong oleh sentimen positif peningkatan peringkat utang Indonesia dari Fitch Ratings pada akhir 2017.

Di sisi lain, Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan peningkatan data nonfarm payroll (NFP) bulanan pada Februari 2018 di AS sebesar 313.000 pekerja, melampaui konsensus sebesar 205.000 pekerja, dan pencapaian bulan sebelumnya sejumlah 239.000 pekerja.

Upah perjam pun meningkat, meskipun hanya 0,1%, lebih rendah dari bulan Januari 0,3% dan estimasi konsensus 0,2%. Sementara itu, tingkat pengangguran terjaga di level 4,1%.

Data ketenagakerjaan yang kian membaik diproyeksikan akan semakin menambah tekanan di pasar obligasi domestik, setelah sebulan terakhir pasar tertekan karena meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Tag : Obligasi