PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak mentah AS tergelincir ke bawah level US$70 per barel pada perdagangan Senin (7/5/2018), setelah Presiden Donald Trump mengungkapkan rencana mengenai keputusannya atas kesepakatan nuklir Iran.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sontak turun lebih dari US$1 per barel menyusul cuitan Trump tersebut dalam akun Twitter-nya. WTI turun ke bawah level US$70, untuk pertama kalinya sepanjang sesi perdagangan.

Penurunan itu mengikis sebagian besar penguatan yang dibukukan WTI pada perdagangan Senin, dengan diperdagangkan naik 11 sen di level US$69,83 pada pukul 3.38 sore waktu setempat.

Rencana pengumuman keputusan yang akan disampaikan oleh Trump pada hari ini, Selasa (8/5) waktu setempat di Washington, terdengar mengejutkan menjelang tenggat waktu 12 Mei 2018 bagi AS untuk membebaskan atau menerapkan kembali sanksi sebagai bagian dari kesepakatan nuklir Iran dan sejumlah negara lainnya.

Pekan lalu, Pemerintahan Trump mendengar argumen yang mendukung kesepakatan tersebut dari Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson berada di Washington pekan ini untuk memberi argumennya membujuk Trump agar tetap dalam perjanjian itu.

“Fakta bahwa Trump mengumumkan waktu keputusan tanpa sekali lagi mengempaskan kesepakatan itu bisa memberi kepercayaan pada pasar bahwa itu mungkin tidak sepenuhnya dihapuskan,” kata Josh Graves, senior market strategist di RJO Futures, seperti dikutip dari Bloomberg.

“Pasar mungkin mempertimbangkan dari komentarnya bahwa kita akan tetap dalam kesepakatan ini. Bahwa kita tidak sepenuhnya meninggalkannya. Menjaga kesepakatan itu berarti minyak bisa diperdagangkan kembali ke pertengahan level US$60,” tambahnya.

Sementara itu, konsumen AS telah merasakan kerugian akibat kenaikan harga minyak mentah sejak awal tahun ini. Harga bensin, yang sudah mendekati level tertinggi sejak November 2014, kemungkinan akan terdorong menghampiri US$3 per galon saat reli pasar berjangka merembes ke tingkat ritel.

“Harga bensin yang tinggi atau bahkan lebih tinggi menjelang pemilihan paruh waktu AS tahun ini bisa menjadi faktor yang menyebabkan Presiden AS mempertimbangkan kembali untuk membatalkan kesepakatan Iran,” kata Giovanni Staunovo, seorang analis di UBS Group AG.

Iran sebelumnya telah mengenyampingkan pembicaraan baru, menyebut perjanjian itu tidak dapat dinegosiasikan. Pada Minggu (6/5) di kota timur laut Sabvezar, Iran, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan AS akan menyesal jika memutuskan untuk keluar dari kesepakatan tersebut.

Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada Venezuela setelah ConocoPhillips dikabarkan berupaya untuk mengambil aset minyak Venezuela di Karibia demi memenuhi penghargaan arbitrase senilai US$2,04 miliar.

Harga minyak Brent untuk pengiriman Juli naik US$1,30 dan ditutup di US$76,17 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$5,55 terhadap WTI Juli.