PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak mentah berhasil naik tajam mengawali perdagangan hari pertama 2019, Rabu (2/1/2019), didorong pulihnya pasar ekuitas di Amerika Serikat (AS) dan data yang menunjukkan awal penurunan produksi yang dijanjikan oleh OPEC.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari ditutup melonjak 2,5% atau US$1,13 di level US$46,54 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan pada Rabu sekitar 20% di atas rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Maret 2019 berakhir menguat US$1,11 di level US$54,91 per barel di ICE Futures Europe exchange di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$8,05 terhadap minyak WTI untuk bulan yang sama.

Baik minyak WTI maupun Brent berhasil membalik pelemahan sebelumnya yang disebabkan oleh data manufaktur yang mengecewakan dari China. Penguatannya juga didukung indeks S&P 500 yang membukukan sedikit kenaikan pada perdagangan Rabu.

Menurut survei Bloomberg terhadap pelaku pasar, analis, dan data pelacakan kapal, produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat penurunan terbesar dalam hampir dua tahun pada Desember.

Langkah pengurangan produksi minyak tampak sudah dimulai bahkan sebelum jadwal pemangkasan akan dimulai bulan ini. Hal ini menyoroti urgensi yang dirasakan eksportir minyak mentah untuk membendung pasar yang telah jatuh bebas.

“Pemangkasan itu besar dan akan tumbuh. Ini akan menyebabkan penurunan besar pada suplai,” kata Phil Flynn, seorang analis pasar di Price Futures Group Inc..

Skeptisisme investor tentang kemampuan OPEC untuk mencegah surplus tahun ini sebelumnya telah membantu mendorong harga ke kemerosotan hampir 40% hingga akhir 2018.

Pedagang merasa kehawatir setiap pemangkasan tidak akan cukup dalam untuk membendung lonjakan pasokan dari pengebor minyak shale AS. Sementara itu, konflik perdagangan internasional dan kenaikan suku bunga di AS telah menambah potensi penurunan yang dihadapi minyak.

Meski Presiden AS Donald Trump menyuarakan hal positif tentang mencapai kesepakatan perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping selama akhir pekan, rilis data aktivitas pabrik di China dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan contoh nyata bahwa konflik dagang antara kedua negara mulai berdampak pada kegiatan ekonomi. .

“Kita telah melihat beberapa kali dimana pasar berusaha untuk bangkit dan tampaknya tekanan jual selalu kembali,” kata Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy, Stamford, Connecticut.

“Sampai kita melihat lebih banyak bukti bahwa fundamental di pasar tidak selemah yang beberapa pihak pikirkan, saya pikir kita akan terus merasakan tekanan itu.”

Di sisi lain, ekspor minyak mentah dari Arab Saudi turun setengah juta barel per hari pada bulan Desember, didorong oleh aliran yang lebih rendah ke AS dan China, menurut data pelacakan kapal tanker yang disusun oleh Bloomberg.

“Sepertinya mereka sangat menargetkan persediaan di AS, karena hal itu memengaruhi data frekuensi tinggi yang menggerakkan para pedagang masuk atau keluar dari pasar minyak,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities di Toronto.

PT KONTAK PERKASA FUTURES