KONTAK PERKASA FUTURES – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mendesak Bank Indonesia (BI) untuk segera menurunkan suku bunga acuan yang masih ditahan di level 6 persen.

Wakil Direktur INDEF Eko Listianto mengatakan, sudah saatnya bunga acuan diturunkan, mengingat beberapa hal yang menjadi pertimbangan seperti untuk mendorong investasi di sektor riil sehingga berujung meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Kembali ditahannya bunga acuan selama 8 bulan berturut-turut di level 6 persen membuat memontum mendorong perekonomian bisa hilang,” ujar dia, Senin (24/6/2019).

Menurutnya, kebijakan tersebut memang dapat membuat arus modal jangka pendek (hot money) betah tinggal di Indonesia. Namun seiring negara-negara lain yang mulai melakukan ekspansi moneter dengan penurunan suku bunga acuan, maka sektor riil Indonesia semakin tidak kompetitif lantaran bunga (cost of fund) yang mahal.

“Upaya penurunan suku bunga acuan di negara-negara lain mereka lakukan untuk memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi. Utamanya agar dampak perang dagang AS-China tidak terlalu menggerogoti kinerja ekonomi sektor riil,” ungkap dia.

Selain itu, ia menambahkan, menahan suku bunga acuan hanya akan mengundang hot money yang akan semakin membuat ekonomi rentan jika gejolak tiba-tiba datang. Bunga di luar negeri yang jauh lebih murah juga membuat pelaku usaha di Indonesia tergiur untuk pinjam dana dari luar negeri.

“Akibatnya, ULN (Utang Luar Negeri) Swasta naik dan risiko nilai tukar juga meningkat. Ini terlihat dari kenaikan ULN yang juga diumumkan BI 3 hari menjelang keputusan RDG (Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia),” sambungnya.

Oleh karenanya, pemerintah dan BI diharapkan segera melakukan respon kebijakan atas dampak perang dagang ke sektor riil. Di sisi kebijakan moneter upaya ini diharapkan juga dilakukan melalui penurunan suku bunga acuan agar produk-produk Indonesia tetap kompetitif.

“Jika suku bunga masih jauh lebih tinggi dari negara lain, maka ekonomi kita akan semakin sulit bersaing. Dengan bunga turun, maka ekspor yang melambat dapat didorong agar menguat, dan impor yang meningkat bisa dihambat dengan geliat produksi dunia usaha di dalam negeri yang meningkat,” pungkasnya.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni 2019 Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menahan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan pada angka 6 persen. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility pada angka 5,25 persen dan Lending Facility 6,75 persen.

“Rapat Dewan Gubernur BI pada 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day repo” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, di Kantor BI, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Bulan ini merupakan kali ketujuh BI menahan suku bunga acuannya pada angka 6 persen. Keputusan tersebut juga sesuai dengan prediksi berbagai pihak.

Head of Sales and Distribution PT Ashmore Asset Management Indonesia, Steven Satya Yudha menuturkan, BI masih tahan suku bunga acuan. BI diperkirakan pertahankan suku bunga acuan ini untuk mempertahankan stabilitas rupiah.

Selain itu, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve juga tetap pertahankan suku bunga acuannya. Steven menuturkan, the Federal Reserve juga baru membuka peluang untuk menurunkan suku bunga acuan meski dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.

KONTAK PERKASA FUTURES