PT KONTAK PERKASA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) meluncur dari level tertingginya dalam lebih dari 3 tahun pada akhir perdagangan Rabu (23/5/2018), menyusul laporan kenaikan tak terduga pada stok minyak mentah dan bensin di AS.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli 2018 turun 36 sen dan ditutup di level US$71,84 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada perdagangan Selasa (22/5), WTI kontrak Juli turun 15 sen ke level US$72,20.

Di sisi lain, harga minyak Brent untuk pengiriman Juli mampu naik 23 sen dan ditutup di US$79,80 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$7,96 terhadap WTI.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa surplus pasokan minyak pada negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut membengkak sebesar 5,78 juta barel pekan lalu, sedangkan persediaan bensin berekspansi sebesar 1,88 juta.

Padahal, hampir setiap analis dan ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan stok akan menyusut.

“Saya terkejut melihat kenaikan besar pada minyak mentah. Risikonya adalah penurunan (harga) saat ini,” kata Tariq Zahir, commodity fund manager di Tyche Capital Advisors LLC., seperti dikutip Bloomberg.

Para perwakilan OPEC dan produsen minyak utama lainnya berkumpul pada Selasa (22/5/2018) sebelum pertemuan utama kelompok ini yang berlangsung bulan depan untuk meninjau dampak pemotongan produksi.

Dengan pasokan dari Iran dan Venezuela yang berisiko, terdapat spekulasi bahwa mereka dapat mengurangi upaya pemangkasan produksi yang dilakukan lebih dari setahun yang lalu untuk mengikis kelebihan suplai global.

Harga minyak Brent naik melampaui level US$80 per barel bulan ini saat tensi geopolitik di Timur Tengah dan kekacauan di Venezuela mendorong kekhawatiran gangguan pasokan.

Terlepas dari rekor produksi minyak mentah AS, OPEC telah berhasil mengatasi kelebihan suplai, menurut IEA.

“Beberapa negara penghasil minyak terbesar harus masuk meringankan kekurangan pasokan yang terjadi apabila pengiriman dari Venezuela atau Iran menurun,” ujar Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol awal pekan ini.

PT KONTAK PERKASA