KONTAK PERKASA FUTURES  – Mirae Asset Sekuritas menilai pada awal pekan ini, Senin (6/8/2018) sentimen negatif dari perang dagang masih dominan terhadap pergerakan harga surat utang negara atau SUN.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa selain itu, investor perlu mewaspadai adanya potensi rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2018 yang di bawah ekspektasi pasar dan melambatnya ekonomi.

Menurutnya, ada potensi pertumbuhan ekonomi tahunan lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 5,06%.

“Dengan demikian, nilai tukar rupiah diperkirakan cenderung melemah terbatas yang pada akhirnya mendorong kenaikan terbatas yield SUN atau penurunan terbatas harga SUN,” katanya dalam riset harian, Senin (6/8/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil SUN hari ini [harga(yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023): 91,80 (7,71%) – 92,00 (7,65%)
FR0064 (15 Mei 2028): 88,40 (7,84%) – 88,70 (7,80%)
FR0065 (15 Mei 2033): 86,65 (8,20%) – 87,00 (8,15%)
FR0075 (15 Mei 2038): 93,00 (8,22%) – 93,45 (8,17%)

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi melemah pada rentang Rp14.475 – Rp14.510 per dolar AS.

Sementara itu, pada perdagangan Jumat pekan lalu, kinerja pasar banyak dipengaruhi besarnya sentimen perang dagang di akhir pekan.

Harga SUN secara umum pada perdagangan pasar sekunder akhir pekan lalu menurun di mana rata-rata penurunan harga pada SUN tenor pendek kurang lebih sebesar 3,18 bps. Sementara itu, untuk kategori SUN tenor menengah dan panjang masing-masing mengalami rata-rata penurunan harga sebesar 18,62 bps dan 25,78 bps.

Seiring pergerakannya yang berlawanan dengan harga SUN, yield SUN khususnya tenor 10 tahun ditutup meningkat ke level 7,78%.

Dhian menilai, turunnya harga atau kenaikan yield SUN pada perdagangan terakhir utamanya didorong oleh besarnya pengaruh negatif global khususnya isu terkait dengan kekhawatiran perang dagang.

Rupiah juga merespon negatif isu perang dagang yang ditutup melemah sebesar 0,14% ke level Rp14.495.

Setelah penutupan pasar Indonesia, perdagangan di pasar global (malam harinya) juga tidak lepas dari sentimen negatif perang dagang pasca Tiongkok berencana untuk melakukan retaliasi kebijakan AS dengan mengenakan tarif impor sebesar 5% hingga 25% terhadap produk AS senilai $60 miliar.

Hal tersebut sekaligus menjaga minat investor global terhadap aset safe haven di mana indeks dolar AS cenderung stagnan di atas 95 poin dan yield global khususnya US Treasury tenor 10 tahun turun ke level 2,95%.

Dominannya isu perang dagang tersebut terjadi di tengah rilis beberapa data tenaga kerja AS yang terus menunjukkan perbaikan, salah satunya tingkat pengangguran yang turun tipis ke level 3,90% per Juli 2018 dari sebelumnya sebesar 4%.

KONTAK PERKASA FUTURES