PT Kontak Perkasa Futures – Reli saham global berlanjut di Asia pada perdagangan pagi ini, Kamis (15/2/2018), saat investor ekuitas menunjukkan tanda-tanda persiapan dengan inflasi dan laju pengetatan yang lebih cepat untuk kebijakan moneter AS setelah aksi jual yang meluas pekan lalu.

Dilansir Bloomberg, indeks Topix dan Nikkei 225 Stock Average Jepang masing-masing menanjak 1,3% pada pukul 9.15 pagi waktu Tokyo.

Adapun indeks S&P/ASX 200 di Australia menguat 0,8% dan kontrak berjangka pada indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,3%. Beberapa bursa saham di negara lain seperti China dan Korea Selatan ditutup hari ini.

Sementara itu, pergerakan indikator indeks S&P 500 sedikit berubah setelah berakhir menguat sekitar 1,3% pada perdagangan Rabu (14/2). Pada saat yang sama, indeks Stoxx Europe 600 menguat 1,1% dan indeks MSCI Asia Pacific bertambah 0,8%.

Indeks MSCI All-Country World mengalami kenaikan terbesar sejak April pada hari Rabu. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik setinggi 2,91%, melanjutkan kenaikan yang stabil dari level terendah tahun lalu yakni 2,01% pada awal September.

Di sisi lain, yen menguat untuk hari keempat dan dolar AS memperpanjang pelemahannya.

Pedagang obligasi dikabarkan meningkatkan ekspektasi mereka untuk jumlah penaikan suku bunga oleh The Federal Reserve menjadi empat kali tahun ini, menyusul laporan yang menunjukkan kenaikan harga konsumen AS pada Januari lebih dari yang diproyeksikan.

Indeks Harga Konsumen inti, tidak termasuk komponen energi dan makanan volatil, naik 0,3% pada Januari, lebih besar dari prediksi para ekonom dalam survei Reuters untuk kenaikan 0,2%.

Data tersebut meningkatkan momok kenaikan inflasi sekaligus menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa bank sentral AS The Federal Reserve dapat lebih agresif dengan kenaikan suku bunga.

Namun, kekhawatiran atas inflasi diimbangi oleh data yang menunjukkan bahwa penjualan ritel AS turun 0,3% bulan lalu, penurunan terbesar dalam hampir satu tahun dan lebih tinggi daripada perkiraan para ekonom untuk kenaikan 0,2%.

“Saham tetap murah dibandingkan dengan obligasi dan tidak akan terpengaruh oleh suku bunga jangka panjang yang lebih tinggi selama imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun bertahan di bawah 4%,” ujar Gina Martin Adams dan Peter Chung, pakar strategi ekuitas di Bloomberg Intelligence.

 

PT Kontak Perkasa Futures