PT KONTAK PERKASA FUTURES  – Bursa saham Amerika Serikat (AS) tergelincir dan berakhir melemah pada perdagangan Kamis (19/7/2018), terbebani laporan keuangan yang mengecewakan serta eskalasi gejolak perdagangan atas kekhawatiran bahwa Uni Eropa dapat mengenakan tarif pembalasan terhadap barang-barang yang diimpor dari AS.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup turun 0,40% atau 11,13 poin di 2.804,49, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,53% atau 134,79 poin di level 25.064,5, dan indeks Nasdaq Composite berakhir turun 0,37% atau 29,15 poin di level 7.825,30.

Sejumlah pejabat dari Komisi Perdagangan Uni Eropa, yang dijadwalkan berkunjung ke Washington pekan depan untuk pembicaraan perdagangan, dikabarkan sedang mempersiapkan daftar tindakan balasan untuk merespons usulan tarif AS untuk mobil asal Uni Eropa.

Sebelumnya, kelompok produsen mobil telah mengatakan bahwa pengenaan tarif pada mobil dan suku cadang dapat meningkatkan harga kendaraan sebesar US$83 miliar per tahun. Saham Ford Motor Co. dan General Motors Co. pun masing-masing turun 0,5% dan 1,4%.

Sementara itu, pada Rabu (18/7), laporan Beige Book Federal Reserve menunjukkan jika produsen di seluruh 12 distrik bank sentral AS tersebut khawatir tentang dampak dari perselisihan perdagangan.

“Jika ini berakhir dengan perang yang berlarut-larut, itu akan menjadi berita buruk,” kata Stephen Massocca, wakil presiden senior di Wedbush Securities, dikutip Reuters.

“Kecuali hal ini mulai menunjukkan kemajuan signifikan sebelum midterm, itu akan menjadi peringatan, karena ekonomi akan mulai melambat,” tambahnya, mengacu pada pemilihan kongres pada 6 November.

Saham eBay turun 10,1% menyusul laporan keuangan perusahaan yang mengecewakan. Sahamnya berada di antara penekan terbesar pada Nasdaq dan S&P 500.

Adapun saham American Express Co turun 2,7% setelah perusahaan kartu kredit ini melaporkan kenaikan biaya karena peningkatan pengeluaran pada program hadiahnya.

Di sisi lain, indeks dolar sempat mencapai level tertinggi satu tahun, memperkuat kekhawatiran bahwa greenback yang kuat bisa merugikan laporan keuangan perusahaan-perusahaan multinasional AS. Namun, dolar mengikis kenaikannya setelah Presiden Donald Trump menyatakan keprihatinan tentang penguatan mata uang.

PT KONTAK PERKASA FUTURES