KONTAK PERKASA FUTURES | Sejumlah kontraktor swasta menjaga pertumbuhan laba bersih pada tahun lalu di tengah tingginya determinasi perseroan sejenis pelat merah dalam proyek pemerintah.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, lima kontraktor swasta yakni PT Acset Indonusa Tbk., PT PT Total Bangun Persada Tbk., PT Totalindo Eka Persada Tbk., PT Nusa Raya Cipta Tbk., dan PT Mitra Pemuda Tbk. membukukan kenaikan laba bersih. Bahkan, Acset Indonesia mencatatkan pertumbuhan laba bersih 125,76%.

Emiten berkode saham ACST itu berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 125,7% secara year on year pada 2017 ditopang pendapatan dari sektor infrastruktur. Jumlah yang dikantongi perseroan naik dari Rp68,3 miliar pada 2016 menjadi Rp154,2 miliar pada tahun lalu.

Sementara itu, pendapatan usaha emiten berkode saham ACST itu tumbuh 68,7% secara yoy pada 2017. Pendapatan naik dari Rp1,79 triliun menjadi Rp3,02 triliun.

Sekretaris Perusahaan Acset Indonusa Maria Cesilia Hapsari mengatakan perseroan akan mengembangkan kemampuan dalam proyek-proyek soil improvement untuk pengembangan usaha tahun ini. Sejak 2017, ACST telah mendapatkan pekerjaan tersebut.

Sebagai contoh, sambungnya, perseroan mendapatkan kontrak untuk soil improvement pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Batang. Proyek tersebut bagian dari target 35.000 megawatt milik pemerintah.

Kontraktor swasta lainnya, Nusa Raya Cipta juga membukukan kenaikan laba bersih signifikan 51,79% secara (yoy). Dalam siaran pers, Selasa (3/4/2018), manajemen emiten berkode saham NRCA itu mengungkapkan mendapat keuntungan dari penjualan investasi jangka panjang tol Cikopo Palimanan pada kuartal II/2017 senilai Rp97,26 miliar.

Dengan demikian, meski pendapatan NRCA turun 12,63% yoy, laba bersih perseroan naik dari Rp101,09 miliar pada 2016 menjadi Rp153,44 miliar pada tahun lalu.

Di sisi lain, Total Bangun Persada menyatakan akan fokus menggarap proyek gedung premium bertingkat tinggi pada 2018. Dari situ, emiten berkode saham TOTL itu menargetkan nilai kontrak baru Rp4 triliun pada tahun ini.

Manajemen TOTL menyebut tahun ini masih mengandalkan proyek atau pelanggan swasta. Kondisi tersebut serupa dengan strategi perseroan pada 2017.

Melalui strategi tersebut, TOTL mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp244,51 miliar pada 2017. Pencapaian itu naik 9,64% dari tahun sebelumnya Rp223,01 miliar.

Kendati ACST, TOTL, NRCA, MTRA, dan TOPS berhasil mengamankan laba bersih, kondisi PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk. justru sebaliknya. Laba bersih emiten berkode saham JKON itu turun 5,26% secara yoy pada 2017.

Penurunan laba bersih tersebut sejalan dengan pendapatan JKON yang tergerus 3,34%. Total pendapatan yang dikantongi turun dari Rp4,65 triliun pada 2016 menjadi Rp4,49 triliun pada tahun lalu.

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading Phintraco Sekuritas Medan menjadikan saham TOTL dan NRCA sebagai top picks untuk saham emiten kontraktor swasta. Hal tersebut berdasarkan kinerja fundamental dari masing-masing perseroan.

TOTL misalnya, dia menyebut pendapatan perseroan tumbuh dengan rata-rata 20,49% per tahun pada rentang 2019-2017. Dengan price to earning ratio (PER) di level 9,9 kali, saham perseroan masih diperdagangkan dengan valuasi yang murah.

Apalagi, sambungnya, nilai kontrak dalam pipeline TOTL mencapai Rp6,3 triliun dengan target tahun ini Rp4 triliun. Dengan demikian, target harga saham perseroan tahun ini diproyeksikan menembus Rp930 per lembar.

“TOTL lebih stabil dan memiliki reputasi akan kualitas yang baik,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (3/4/2018).

Di sisi lain, Frankie menyebut NRCA memiliki PER paling murah atau 8,24 kali di sektor emiten kontraktor swasta. Perseroan berpotensi memunculkan earning surprises sehingga harga saham dapat melampaui target.

“Salah satu faktor positif untuk NRCA adalah kerja sama antara perseroan dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. di jalan tol Subang-Patimbang,” paparnya.

Dia memproyeksikan tahun ini emiten kontraktor swasta masih menjadi perhatian para investor. Pasalnya, saham-saham di sektor tersebut termasuk ke dalam jajaran lini kedua yang belum banyak mencatatkan kenaikan harga di tengah valuasi yang masih terbilang murah.