KONTAK PERKASA FUTURES  – Harga minyak mentah menguat setelah laporan industri menunjukkan penurunan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November diperdagangkan pada US$72,21 per barel pada pukul 16.43 waktu New York setelah mengakhiri sesi di level US$71,92 di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan pada Selasa (16/10/2018) mencapai 11% di bawah rata-rata 100 hari terakhir.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Desember naik 63 sen ke level US$81,41 di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global ini diperdagangkan lebih tinggi US$9,65 dibanding WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, American Petroleum Institute melaporkan persediaan minyak mentah AS merosot 2,13 juta barel pekan lalu. Ini akan menjadi penurunan pertama dalam empat pekan terakhir jika data Energy Information Administration menegaskan hal itu pada hari Rabu.

Penurunan cadangan ini disebabkan oleh badai Michael yang menutup produksi di Teluk Meksiko selama periode pelaporan, yang dapat berkontribusi pada penurunan persediaan.

“Badai Michael adalah faktor penentu mengapa cadangan minyak tidak terus naik. Hilangnya produksi tidak seluruhnya kembali sekaligus. Secara bertahap datang kembali,” kata Thomas Finlon, direktur Energy Analytics Group Ltd, seperti dikutip Bloomberg.

Pasar minyak bergolak dalam beberapa hari terakhir di tengah misteri atas lenyapnya hilangnya wartawan Jamal Khashoggi, yang memperdalam ancaman dari tindakan hukuman oleh AS dan Arab Saudi.

Pada hari Senin, laporan media muncul yang mengatakan kerajaan sedang mempertimbangkan untuk menyatakan Khashoggi tewas dalam interogasi yang gagal di dalam konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Sementara itu, API juga melaporkan bahwa persediaan minyak di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma, naik 1,53 juta barel pekan lalu. Pasokan bensin dan distilat juga jatuh. Peningkatan Cushing akan menjadi yang keempat berturut-turut jika data EIA menunjukkan hal yang sama.

Analis dalam survei Bloomberg memperkirakan peningkatan 2,5 juta barel stok minyak mentah.

KONTAK PERKASA FUTURES