KONTAK PERKASA FUTURES – Emas pada 2018 akan menunjukkan performa harga tahunan terkuatnya selama lima tahun, analis GFMS meramalkan pada Seasa karena ketidakpastian politik mendorong pertambahan investasi pada emas batangan dan saham emas.

Tim perusahaan riset dan konsultan GFMS, salah satu unit Thomson Reuters, memprediksikan harga emas rata-rata akan mencpai US$1.360 per troy ounce tahun ini, naik 8% dari 2017, dengan pergerakan jangka pendek menuju US$1.500 per troy ounce.

Ketidakpastian yang ada di sekitar politik Presiden AS Trump, bersamaan dengan ketegangan di Timur Tengah dan negosiasi Brexit akan menjadi pendorong utama harga emas,” ujar tim survei Reuters itu dalam rilis Gold Survey 2018, Selasa (8/5).

Tim itu berharap permitaan di Exchange Traded Funds (ETF) bisa rebound tahun ini sebanyak 350 ton.

“Investasi ritel diperkirakan naik pada 2018 mengalami penurunan selama empat tahun berturut-turut, berkat peningkatan permintaan emas batangan dan didukung oleh sentimen positif terhadap emas yang membuat perkiraan harga meningkat,” ujar GFMS.

GMFS mengungkapkan untuk menambahkan gambaran bullish, Bank Sentral China memperkirakan untuk melanjutkan pembelian, yang mendorong kenaikan permintaan sektor resmi bersih tahun ini menjadi lebih dari 400 juta ton untuk pertama kalinya sejak 2015.

Bank Sentral China, salah satu pembeli utama komoditas emas, belum melaporkan tambahan pada persediaannya sejak Oktober 2016.

Total permintaan ETF ada 117 ton pada tahun lalu, dengan permintaan emas fisikal, termasuk pembelian untuk perhiasan, koin, dan batangan mengalami kenaikan 10%, kenaikan tahuan pertama sejak 2013.

Kondisi tersebut terdorong oleh kenaikan permintaan sebanyak 13% dari pabrik perhiasan, kenaikan tahunan pertama sejak 2013m dengan permintaan pada konsumen terbesar ke dua di dunia India menguat sebelum pemberlakuan rezim pajak baru pada pertengahan tahun.

Pabrik perhiasan di Asia Timur, termasuk konsumen nomor satu China, jatuh selama 4 tahun berturut-turut ke level terlemahnya selama 5 tahun, kata GFMS.

Menurut GFMS, secara keseluruhan, permintaan emas China turun 3% pada 2017 dan konsumsi China diperkirakan melemah lebih jauh pada tahun ini, mengutip dari perubahan structural pada industri perhiasan yang telah melihat fokus pengecer pada prosuk dengan margin yang lebih tinggi.

Permintaan global untuk emas batangan diperkirakan naik 1%, pulih setelah anjlok selama 4 tahun berturut-turut, sementara itu koni diramalkan tetap melelmah setelah mengalami kemerosotan pada 2017 dan menyentuh titik terlemahnya sejak 2007.

“Peningkatan sentimen terhadap outlook ekonomi, terutama di AS, mengurangi ketertarikan investor terhadap koin emas sementara risiko minat meningkat,” kata GFMS.

Produksi pertambangan mengalami penurunan pada tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 2008, total menjadi 3.247 ton.

Pada 2018, tim itu berharap hasil dari pertambangan bisa mencapai rekor di posisi 3.265 ton. “Kami berekspektasi negara di Asia seperti Indonesia, Mongolia, dan China bisa berkontribusi untuk menambah pasokan emas tahun ini, bersama Rusia, Australia dan Kanada.”

KONTAK PERKASA FUTURES