KONTAK PERKASA FUTURES – Harga batu bara tergelincir dari relinya dan melorot lebih dari 1% pada akhir perdagangan Kamis (30/8/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Desember 2018 berakhir melorot 1,55% atau 1,70 poin di US$108,20 per metrik ton, mengakhiri reli yang dibukukan enam hari berturut-turut sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (29/8) harga batu bara kontrak Desember 2018 padahal masih melanjutkan penguatannya dan ditutup melonjak 3,68% di posisi 109,90.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 juga tergellincir dan berakhir anjlok 2,05% atau 2 poin di level US$95,55 per metrik ton pada Kamis (30/8), setelah lima hari berturut-turut menguat.

Di sisi lain, di Zhengzhou Commodity Exchange, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 mampu ditutup menguat 0,32% atau 2 poin di level 621,8 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin.

Berbanding terbalik dengan batu hitam, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) menguat dan menembus level US$70 per barel untuk pertama kalinya dalam sebulan pada perdagangan Kamis (30/8), seiring dengan menyusutnya suplai dari AS dan Iran.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menguat 1,1% atau 74 sen dan ditutup di US$70,25 per barel di New York Mercantile Exchange, level tertinggi dalam lebih dari lima pekan. Total volume yang diperdagangkan sekitar 35% di bawah rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober bertambah 63 sen dan berakhir di level US$77,77 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, level tertinggi sejak awal Juli. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$7,52 terhadap WTI.

Dilansir dari Bloomberg, saat persediaan minyak mentah di AS menurun dan produksi terhenti, para pembeli minyak Iran menghadapi kesulitan membeli minyak mentahnya bahkan sebelum sanksi terhadap negara tersebut diberlakukan pada 4 November.

Iran juga mengancam untuk menghentikan ekspor minyak Timur Tengah jika tidak diizinkan untuk mengirimkan minyak mentah melalui Selat Hormuz.

“Pada akhirnya, apa yang kami lihat adalah pasar AS yang lebih ketat. Kami melihat stagnasi di sisi produksi minyak,” ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities. “Hal ini seiring dengan ekonomi yang masih berjalan cukup kuat di Amerika Serikat.”

Menurutnya, sanksi terhadap Iran juga telah menjaga harga minyak lebih tinggi.

Pergerakan harga batu bara kontrak Desember 2018 di bursa Newcastle

Tanggal US$/MT
30 Agustus 108,20

(-1,55%)

29 Agustus 109,90

(+3,68%)

28 Agustus 106,00

(+0,38%)

27 Agustus 105,60

(+0,96%)

24 Agustus 104,60

(+0,67%)

Sumber: Bloomberg

KONTAK PERKASA FUTURES