KONTAK PERKASA FUTURES – Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) tumbang pada akhir perdagangan Rabu (10/10/2018), dengan indeks S&P 500 dan Dow Jones mencatat penurunan terbesarnya sejak 8 Februari.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup terjerembap 3,15% atau 831,83 poin di level 25.598,74, indeks S&P 500 anjlok 3,29% atau 94,66 poin di 2.785,68, sedangkan indeks Nasdaq Composite berakhir tersungkur 4,08% atau 315,97 poin di level 7.422,05.

Dilansir Reuters, imbal hasil obligasi AS bertenor jangka panjang kembali naik memperpanjang tren selama beberapa pekan terakhir didorong solidnya data ekonomi AS yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga selama 12 bulan ke depan.

Pada saat yang sama, kekhawatiran investor khawatir tentang dampak ketegangan perdagangan terhadap laba korporasi dan Badai Michael yang melanda Florida menambah ketidakpastian.

Nasdaq mencatat penurunan harian terbesar sejak 24 Juni 2016, tertekan saham teknologi yang mengalami penurunan harian terbesar sejak Agustus 2011. Adapun penurunan S&P 500 mewakili penurunan sebesar 4,95% dari level tertinggi yang dibukukan pada 20 September.

“Ada sedikit mandi darah hari ini, aksi penghindaran aset berisiko yang jelas. [Harga] emas naik sedikit,” kata Ed Campbell, manajer portofolio senior di QMA.

“Ini terutama efek kumulatif dari pergerakan suku bunga selama lima hari terakhir dan pemberitaan tentang perdagangan yang berdampak pada perusahaan,” tambahnya.

Sektor teknologi pada S&P turun 4,8%, dengan saham Apple Inc menjadi penekan terbesar dengan penurunan sebesar 4,6%. Sektor layanan komunikasi, consumer discretionary, energi, dan industri semuanya menunjukkan penurunan lebih dari 3%.

Sektor energi adalah salah satu yang mengalami penurunan terbesar hampir sepanjang sesi saat produksi minyak AS terpukul ketika industri menantikan Badai Michael.

Indeks Volatilitas CBOE pun naik 7 poin, atau hampir 44% ke 22,96, naik di atas level 20 untuk pertama kalinya sejak 11 April dan mencapai level penutupan tertinggi sejak 2 April.

Mona Mahajan, pakar strategi investasi AS di Allianz Global Investors di New York, mengatakan pasar berpotensi menjual sebanyak 10% dari rekornya sebelum naik lagi.

Tetapi dengan asumsi pertumbuhan ekonomi tetap utuh, “ini bisa menjadi peluang membeli yang menarik,” menurut Mahajan, yang mengatakan pasar ekuitas cenderung berkinerja baik dalam enam bulan setelah pemilihan paruh waktu AS.

KONTAK PERKASA FUTURES