PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak naik lebih dari 1 persen dipicu ketegangan Timur Tengah dan pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC. Kemudian adanya gangguan pasokan minyak mentah lanjutan dari Rusia setelah masalah kontaminasi ditemukan pada bulan lalu.

Melansir laman Reuters, Selasa (28/5/2019), harga minyak Brent di posisi USD 70,11, naik USD 1,42, atau 2,07 persen, setelah turun sekitar 4,5 persen pada minggu lalu. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS naik 59 sen, atau 1 persen menjadi USD 59,24 per barel.

Pengurangan output, yang dilakukan sukarela oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, ditambah adanya sanksi AS, telah membantu minyak mentah Brent, patokan global, naik sekitar 29 persen tahun ini.

Hari libur yang berlangsung di Amerika Serikat dan Inggris pada hari Senin membatasi pasokan dan menjaga volume minyak rendah.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, seiring pengumuman Washington pada hari Jumat bahwa mereka akan mengerahkan lebih banyak pasukan ke Timur Tengah, meningkatkan prospek gangguan pasokan dan mendukung harga minyak dunia.

Meski beberapa analis mengatakan pengaruhnya bisa terbatas. “Langkah ini semakin meningkatkan ketegangan di kawasan ini, tetapi dengan pasar AS dan Inggris ditutup hari ini dan sebagian besar ketegangan geopolitik kemungkinan terjadi di pasar, efek pada harga minyak mentah mungkin tetap terkendali,” kata JBC Energy dalam laporannya.

PRODUKSI MINYAK

Produksi minyak Rusia terus turun bulan ini, akibat tekanan dari ekspor yang lebih rendah setelah ditemukannya minyak yang terkontaminasi yang dikirim melalui pipa Druzhba ke Eropa. Penurunan produksi karena kontaminasi membantu memperketat pasar dan mendorong harga.

Pengurangan pasokan yang dipimpin oleh OPEC juga membantu reli minyak mentah berjangka dunia.

Menteri perminyakan Kuwait Khaled al-Fadhel mengatakan pasar diperkirakan akan seimbang. Dia meminta OPEC tidak terburu-buru untuk memudahkan pengendalian pasokan menjelang pertemuan pertengahan tahun untuk meninjau kebijakan soal minyak tersebut.

“Kami masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Saya percaya pasar diharapkan akan seimbang selama paruh kedua 2019, terlebih menjelang akhir tahun,” kata Al-Fadhel kepada Reuters.

Selain pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC, sanksi AS terhadap anggota OPEC Iran dan Venezuela telah mengekang ekspor minyak mentah dan mengurangi pasokan lebih lanjut.

PT KONTAK PERKASA FUTURES