Kontak Perkasa Futures | Pendidikan tinggi adalah sebuah kemewahan bagi kaum wanita. Entah dengan “senjata” interpretasi agama, stereotip peran gender yang mengakar dalam budaya setempat, mitos-mitos, atau tindakan represif yang membungkus ketidakpercayaan diri sebagian pihak, perempuan dipaksa mundur menuntut ilmu tinggi. Perempuan harus berusaha ekstra untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya, lepas dari telah tersedianya macam-macam akses ke pendidikan di berbagai negara.

Lirik kisah Malala Yousafzai yang mati-matian berjuang supaya perempuan-perempuan muda Pakistan mampu mengecap pendidikan di tengah kekangan Taliban. Tidak main-main, gadis yang baru berusia 20 ini bahkan sempat mempertaruhkan nyawa demi idealismenya tersebut. Bagi Taliban, perempuan berpendidikan adalah momok dan tidak sejalan dengan keyakinan mereka.

Situasi represif yang hampir sama juga dialami oleh Eqbal Dauqan, seorang profesor biokimia dari Yaman. Dilansir NPR, The World Economic Forum menunjuk Yaman sebagai negara yang paling tidak menghargai hak perempuan. Banyak perempuan Yemen yang tidak bisa meninggalkan rumah tanpa didampingi oleh anggota keluarga laki-laki atau suaminya.

Atau tilik pengalaman Margdarshi dari India atau perempuan-perempuan muda di sub-Sahara, Afrika, yang sempat berhenti sekolah hanya karena kepelikan yang dialaminya begitu menstruasi. Olok-olok yang lahir dari tabu menstruasi, ditambah sulitnya akses mendapatkan pembalut, membuat mereka akhirnya mengorbankan pendidikan.

Baca juga:

Di Indonesia, alasan ekonomi kerap menjadi hambatan bagi perempuan untuk melanjutkan studi. Sanita, belia asal Jawa Tengah yang pada Mei 2017 lalu menjadi wakil Indonesia dalam ajang Asian Development Bank’s 5th Annual Asian Youth Forum, bercerita kepada Huffingtonpost tentang pengalamannya hampir dinikahkan dini dulu. Pada usia 13, atas dasar kesulitan finansial, Sanita sempat ingin dinikahkan orangtuanya. Ia menolak.

“Jika Bapak dan Ibu menghentikan pernikahan ini dan membiarkan saya melanjutkan pendidikan, saya akan membayar seluruh biaya yang Bapak dan Ibu habiskan buat saya. Jika Bapak dan Ibu memaksa saya menikah, maka saya tidak akan punya apa-apa lagi,” ujarnya.

Dengan macam-macam prestasinya kini, Sanita bisa menunjukkan kepada kedua orangtuanya bahwa itu semua didapatkan sebagai hasil dari pendidikan yang begitu diperjuangkannya.

Berbagai kepelikan yang dialami perempuan saat berupaya mengecap pendidikan pun mengakibatkan lebih kecilnya angka perempuan yang meraih gelar doktor atau menjadi periset dibanding laki-laki. SurveiPusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP) Kemendikbud tahun 2013 menunjukkan, persentase perempuan pengajar perguruan tinggi sebesar 40,58%, sementara pengajar perguruan tinggi laki-laki sebesar 59,42%. Kemendikbud memandang, adanya persepsi bahwa perempuan hanya bertanggung jawab dalam urusan domestik membuat mereka kurang termotivasi untuk mengambil gelar S2 atau S3 sebagai syarat pengajar perguruan tinggi.

Kecenderungan lebih sedikitnya perempuan peneliti atau doktor tidak hanya ditemukan di Indonesia. Di negara maju macam Amerika Serikat pun, jumlah perempuan penerima gelar doktor pun masih lebih rendah dibanding laki-laki. Survei National Science Foundation pada rentang 2010-2014 menunjukkan, terdapat 72.446 perempuan dan 104.425 laki-laki peraih gelar doktor.

Kontak Perkasa Futures