KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak mentah mencatat pelemahan terburuk dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Senin (10/12/2018) karena meningkatnya keraguan mengenai nasib pemangkasan produksi OPEC dan produsen lainnya.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari turun 3,1% ke level US$ 51 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Februari turun US$1,70 ke level US$59,97 di bursa ICE Futures Europe London. Minyak mentah patokan global diperdagangkan lebih tinggi US$8,87 dibanding WTI pada kontrak bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, minyak mentah menghapus semua penguatan yang dipicu kesepakatan pekan lalu antara Rusia, Arab Saudi dan produsen lainnya untuk menekan pasokan.

Kekhawatiran tentang permintaan juga turut menekan harga setelah data menunjukkan impor China naik di bawah ekspektasi dan Beijing memanggil duta besar AS untuk memprotes penangkapan CEO Huawei.

Analis di oldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley mencatat, meskipun aliansi yang dikenal sebagai OPEC+ setuju untuk memangkas sekitar 1% dari produksi global, bagaimana pemotongan akan dilaksanakan masih belum dipastikan.

“Anda dapat melihat bagaimana angka-angkanya bisa bekerja, tetapi itu bukan hal yang mengejutkan,” kata Michael Hiley, kepala perdagangan energi OTC di LPS Futures di New York.

Sementara itu, pengebor minyak AS, Hess Corp. dan ConocoPhillips juga mengumumkan bahwa mereka akan mempertahankan atau meningkatkan output pada 2019, tanda bahwa penurunan harga baru-baru ini tidak akan menghentikan ledakan minyak shale AS.

OPEC+ menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk menjaga agar keran produksi tetap terbuka, karena produsen berusaha menghentikan keruntuhan harga.

Minyak mentah turun dari level tertinggi empat tahun pada awal Oktober setelah Washington berusaha untuk meringankan sanksi yang menargetkan ekspor minyak Iran sementara perusahaan-perusahaan AS mendorong output ke rekor baru.

Kesepakatan OPEC + adalah bukti kekuatan kerjasama dua tahun Arab Saudi dengan Rusia dan menunjukkan Putra Mahkota Mohammad bin Salman bersedia menentang keinginan Trump bahkan setelah kasus pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.

Namun, ketidakpastian tetap ada karena kesepakatan OPEC+ tidak menentukan alokasi negara dan membebaskan Libya, Venezuela serta Iran, menurut Goldman Sachs.

Sementara itu, meskipun Morgan Stanley mengatakan pemotongan mungkin akan cukup untuk menyeimbangkan pasar pada semester pertama tahun depan, mereka memperkirakan kenaikan akan terbatas dan memangkas perkiraan harga Brent sebesar US$10 per barel untuk 2019.

 

KONTAK PERKASA FUTURES