PT Kontak Perkasa Futures  | Kenaikan jumlah rig di Amerika Serikat (AS) serta berlanjutnya ketidakpastian seputar strategi OPEC untuk memperpanjang upaya pemangkasan pasokan mendorong harga minyak berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari ditutup di US$58,11 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah melemah ke level rendah intraday di US$57,55.

Kabar tentang penurunan jumlah persediaan minyak mentah sebesar 2 juta barel di Cushing pekan lalu membantu memacu rebound pada pertengahan hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari ditutup di US$63,84 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, setelah naik 1,8% pekan lalu.

Harga minyak AS turun 2,4% di New York setelah naik 1,6% pada perdagangan Jumat ke level tertingginya sejak Juni 2015. Menurut sumber terkait, OPEC dan Rusia, mitra dalam kesepakatan pembatasan produksi minyak, telah menciptakan garis besar kesepakatan untuk memperpanjang upaya pembatasan hingga akhir tahun depan.

Namun, tetap ada keraguan seputar jumlah pengurangan produksi setelah kesepakatan saat ini berakhir pada bulan Maret, berikut strategi yang akan diterapkan kelompok ini. Turut menambah sentimen negatif terhadap pasar minyak, para pengebor menargetkan menambah sembilan rig pekan lalu.

“Apa yang kita lihat adalah keraguan menjelang pertemuan OPEC [pekan ini]. Setelah kegembiraan selama tiga pekan, investor sekarang semakin gugup. Itu akan menjadi pendorong dominan terlepas dari data fundamental mingguan,” kata Ashley Petersen, analis pasar minyak di Stratas Advisors, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (28/11/2017).

Harga minyak telah naik sekitar 23% sejak awal September akibat spekulasi bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya akan memperpanjang upaya pengurangan produksi untuk mengatasi kelebihan suplai global.

Menurut sumber terkait, OPEC dan Rusia masih memetakan rincian penting untuk perpanjangan tersebut. Rusia ingin kesepakatan untuk memasukkan ketentuan baru yang akan menghubungkan ukuran pembatasan terhadap kesehatan pasar minyak.

“Konsensus tersebut sedang membangun bahwa Rusia mungkin tidak ingin memiliki situasi dimana mereka siap untuk membatasi pasokan tanpa kualifikasi apapun,” ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities.

“Mereka tidak ingin menggerakkan harga terlalu tinggi untuk memberi insentif kepada produsen tak konvensional untuk memproduksi,” lanjutnya.