Kontak Perkasa Futures – Meningkatnya kebutuhan ekspansi korporasi di tengah perbankan yang masih hati-hati menyalurkan kredit menjadi faktor pendorong kian maraknya emisi MTN di semester pertama tahun ini, selain karena mulai populernya pasar modal sebagai tempat menggalang dana murah.

PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat emisi MTN sepanjang kuartal pertama tahun ini mencapai Rp9,24 triliun, atau 24% dari total emisi surat utang korporasi pada kuartal pertama tahun ini Rp38,67 triliun. Selain itu, ada emisi MTN dalam denominasi dollar senilai US$44 juta.

Total ada 40 seri MTN yang diterbitkan di kuartal pertama tahun ini. Padahal, pada kuartal pertama tahun lalu, realisasi emisi MTN masih kurang dari Rp2 triliun dengan jumlah seri kurang dari 20. Nilai emisi MTN pada awal tahun ini pun relatif tinggi, bahkan mencapai Rp1 triliun, sedangkan awal tahun lalu kebanyakan di bawah Rp100 miliar.

Sementara itu, Pefindo masih mengantongi mandat pemeringkatan untuk emisi MTN senilai Rp23,48 triliun, atau 28% dari total mandat seluruh surat utang mencakup obligasi, obligasi berkelanjutan, MTN dan efek beragun aset senilai total Rp82,58 triliun.

Sepanjag bulan April 2018, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah mencatat pendaftaran 11 seri MTN baru dengan nilai Rp1,02 triliun dan US$4 juta.

I Made Adi Saputra, Kepala Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa ada dua hal yang menjelaskan alasan meningkatnya emisi MTN di awal tahun ini selain soal kesederhanaan proses penerbitan dan tren biaya dana yang sedang murah.

Pertama, meningkatnya kebutuhan ekspansi perusahaan, tetapi tidak diimbangi kesediaan perbankan untuk menyediakan pembiayaan. Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi yang belum terlalu stabil saat ini bank masih cukup hati-hati untuk menyalurkan kredit sehingga sangat selektif dalam menentukan calon debiturnya.

Selain itu, bank juga enggan membiayai sejumlah sektor tertentu karena terkendala regulasi tertentu atau karena model bisnisnya dianggap terlalu berisiko. Sementara itu, batas kredit yang dapat ditarik oleh korporasi dari bank-bank mitranya selama ini sudah hampir tercapai sehingga sulit menambah kredit baru.

“Ini yang menyebabkan mereka akhirnya coba cari dana di pasar modal. Dari segi rate masih mirip-mirip dengan bunga bank, sehingga sama saja. Mereka lihat ini peluang karena di satu sisi bank juga cukup agresif membeli MTN,” katanya kepada Bisnis pekan lalu.

Made mengatakan, untuk memitigasi risiko non performing loan dan pengetatan likuiditas, bank cenderung lebih memilih menyalurkan pembiayaan kepada korporasi melalui pembelian surat utang korporasi dibandingkan menyalurkan kredit secara langsung.

“Karena lebih mudah bagi bank untuk menjual instrumen efek ketiga butuh likuiditas dibandingkan untuk jual beli aset kredit,” katanya.

Kedua, lanjutnya, sebagian korporasi yang menerbitkan MTN hanya membutuhkan utang yang kecil sehingga cenderung lebih memilih menerbitkan MTN dibandingkan berutang ke bank. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan permintaan kredit perbankan berkurang selama ini dan undisbursed loan perbankan tinggi.

“Mereka lebih pilih capital market melalui MTN karena prosesnya lebih gampang, sementara bank ikatannya banyak sekali dan harus ada jaminan. Investornya juga sekarang lagi banyak yang berminat untuk beli MTN, khususnya dari reksadana, untuk dapat return tinggi bagi nasabah mereka,” katanya.

Indaryanto, Direktur Keuangan PT PP Properti Tbk., mengatakan bahwa keputusan perseroan untuk menerbitkan MTN disebabkan karena kebutuhan belanja modal perusahaan properti tidak bisa sepenuhnya diperoleh dari pinjaman bank.

Bank Indonesia telah melarang penyaluran kredit untuk kebutuhan pembelian tanah, padahal itu merupakan kunci bisnis properti. Sementara itu, tidak semua bank mau mengucurkan kredit untuk kebutuhan pembangunan properti komersial seperti mall atau hotel yang sistem bisnisnya jangka panjang.

“Kami juga pakai MTN sebagai langkah awal untuk masuk ke pasar obligasi. Biasanya alurnya memang seperti itu, kita berusaha membangun trust investor dulu melalui surat utang dalam skala yang lebih kecil seperti MTN,” katanya.

Emiten dengan kode saham PPRO ini tahun lalu menerbitkan 5 seri MTN senilai total Rp1,2 triliun. Tahun ini, perseroan berencana kembali menerbitkan MTN senilai Rp600 miliar beserta obligasi berkelanjutan Rp2 triliun.

Hendro Utomo, Wakil Presiden Senior Pefindo, mengatakan bahwa tingginya emisi MTN juga disebabkan karena permintaan investor saat ini sangat tinggi. MTN umumnya memberikan tingkat bunga yang lebih tinggi dibandingkan obligasi. Ini banyak diincar oleh para manajer keuangan reksadana pendapatan tetap yang ingin meracik portofolio dengan return tinggi.

“Faktor utamanya karena kebutuhan investor untuk mencari instrumen yang suku bunganya masih atraktif dengan risiko yang masih bisa mereka terima. Walaupun mungin bukan rating tinggi, tetapi yang penting layak investasi, peminatnya tinggi,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, beberapa emiten MTN umumnya adalah korporasi dengan peringkat penerbit dan peringkat surat utang yang rendah. Hal ini menyulitkan mereka untuk menggalang dana melalui obligasi, sebab investor obligasi cenderung lebih meminati perusahaan yang memiliki peringkat tinggi, terutama AAA.

“Kalau mereka paksakan obligasi, pasarnya malah mungin tidak ada. Ya sudah, kalau terbatas ya MTN saja, dari pada cuma dapat investor sedikit dan harus melewati proses panjang di obligasi,” katanya.

Kontak Perkasa Futures