PT Kontak Perkasa Balikpapan  – Harga minyak mentah dunia berakhir melemah pada perdagangan Senin (12/3/2018), terbebani spekulasi bahwa pertumbuhan produksi minyak serpih akan membendung penurunan jumlah persediaan dari pusat terbesar di Amerika Serikat (AS).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2018 berakhir melemah 68 sen di US$61,36 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah melonjak US$1,92 pada perdagangan Jumat (9/3).

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Mei 2018 berakhir turun 54 sen di US$64,95 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, serta ditutup di US$3,62 premium terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, WTI futures turun 1,1% setelah sebuah laporan pemerintah menunjukkan ekspansi lebih lanjut dalam produksi minyak serpih. Output dari wilayah minyak serpih utama di AS diprediksi akan meningkat 131.000 barel per hari pada April, data pemerintah menunjukkan.

Adapun stok di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak berjangka, sedikit berubah setelah 11 pekan berturut-turut menurun, menurut perkiraan Bloomberg. Perbedaan antara konrak berjangka April dan Mei menyempit menjadi 3 sen.

“Saya sama sekali tidak akan terkejut jika kita melihat sedikit kenaikan di Cushing untuk pertama kalinya dalam 12 pekan,” ujar Thomas Finlon, direktur Energy Analytics Group Ltd., seperti dikutip Bloomberg.

“Saya melihat beberapa hal terjadi dengan jaringan pipa, mereka membaik, saya melihat arus ekspor yang berkurang karena penyempitan nilai WTI-Brent, dan kita masih dalam musim perputaran,” lanjutnya.

Perbedaan antara dua kontrak WTI pertama telah mengalami kemunduran, dimana harga yang diminta lebih tinggi daripada pengiriman, setiap hari sejak 22 Januari. Persediaan di Cushing telah turun sebesar lebih dari separuhnya sejak November ke level terendah sejak Desember 2014.

Sementara itu, output dari wilayah minyak serpih akan mencapai 6,95 juta barel per hari pada April, menurut Energy Information Administration dalam laporan produktivitas pengeboran bulanannya. Produksi Permkin Basin memimpin dengan kenaikan 80.000 barel.

Kekhawatiran akan peningkatan produksi AS terus membebani produsen dan investor. Iran ingin OPEC tetap berupaya menjaga harga minyak sekitar US$60 per barel karena kenaikan menuju US$70 akan mendorong produksi minyak serpih, kata Menteri Perminyakan Bijan Zanganeh.

Beberapa ketidakpastian dicerminkan dalam posisi short selling penjualan oleh pengelola keuangan. Hedge fund mendorong taruhan atas penurunan harga WTI terbesar tahun ini setelah produksi Amerika melonjak ke level rekornya, menurut Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS.