Kontak Perkasa Futures – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan terbesar dalam lebih dari sepekan pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), akibat terbebani penguatan dolar AS.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2018 berakhir turun 58 sen di US$65,56 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 3% di atas rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Maret 2018 ditutup turun US$1,06 di US$69,46 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global tersebut diperdagangkan premium sebesar US$3,90 terhadap WTI, terkecil sejak Agustus.

Dilansir Bloomberg, minyak mentah di New York turun 0,9% pada perdagangan Senin karena kenaikan nilai mata uang AS memperkecil permintaan untuk aset berdenominasi dolar AS.

Pada saat yang sama, ada kemungkinan persediaan minyak mentah pada tangki penyimpanan dan terminal AS meningkat pekan lalu, untuk pertama kalinya sejak awal November. Jika benar, kenaikan ini akan menghentikan rentetan penurunan sebelumnya.

“Itulah alasan terbesar mengapa Anda melihat tekanan pada minyak mentah, terkait fungsi korelasi berbalik terhadap dolar,” kata Bob Yawger, director of futures di Mizuho Securities USA Inc. di New York.

“Selain itu, ada perkiraan akan ada peningkatan persediaan untuk pertama kalinya dalam sebelas pekan,” tambahnya, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (30/1/2018).

Dolar AS naik, didorong kenaikan imbal hasil Treasury. Bloomberg Dollar Spot Index bertambah sebanyak 0,5%.

Harga minyak memang masih berada di kisaran level tertinggi dalam tiga tahun, di tengah upaya pembatasan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan aliansinya termasuk Rusia. Mayoritas anggota OPEC sepakat bahwa langkah pemangkasan harus dijaga sampai akhir tahun, kata Menteri Perminyakan Irak Jabbar Al-Luaibi.

Akan tetapi, dengan harga minyak acuan AS di sekitar US$65 per barel, jumlah pengeboran rig minyak mentah di ladang AS terus meningkat.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh memperingatkan bahwa harga minyak mentah di US$60 akan mendorong output dari ladang minyak shale, sekaligus mendorong harga turun lagi. Produksi minyak mentah AS saat ini berada pada level 9,88 juta barel per hari.

“Masih terkait dengan perdagangan dolar. Jumlah rig menjadi hal lain yang siginifikan, produksi semakin dekat dan mendekati 10 juta barel per hari,” kata John Macaluso, seorang pedagang di Tyche Capital Advisors LLC di New York.

Stok minyak mentah AS diperkirakan naik sebesar 669.000 barel pekan lalu, menurut perkiraan median para analis dalam survei Bloomberg.

 

Kontak Perkasa Futures