KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas turun pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta), terbebani oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Sentimen bahwa Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) tidak akan memangkas suku bunga dengan segera menjadi mendorong penguatan dolar AS.

Mengutip CNBC, Kamis (19/12/2019), harga emas di pasar spot turun 0,1 persen menjadi USD 1.474,91 per ounce. Sedangkan harga emas berjangka AS juga melemah 0,1 persen menjadi USD 1.478,70 per ounce.

“Kekuatan dolar membebani emas, ditambah fakta bahwa adanya kesepakatan perdagangan antara AS dengan China telah menghilangkan keinginan investor untuk masuk ke safe haven seperti emas atau yen,” jelas analis ED&F Man Capital Markets, Edward Meir.

Namun sebagian pelaku pasar memang masih menunggu hasil final dari kesepakatan tersebut. Saat ini yang terjadi merupakan awal dari kesepakatan sehingga ke depannya apapun bisa terjadi.

Data pada hari Selasa menunjukkan output manufaktur AS rebound lebih dari yang diharapkan pada bulan November, sehingga kecil kemungkinan The Fed akan segera menurunkan suku bunga.

Emas sensitif terhadap kenaikan suku bunga, yang mengangkat biaya bagi siapapun yang mengoleksinya dan mendongkrak nilai tukar dolar AS.

Harga emas di jalur kenaikan tahunan terbesar sejak 2010. Kenaikan tersebut didukung oleh kekhawatiran resesi dan sebagai bank sentral utama di seluruh dunia menjalankan kebijakan pelonggaran moneter.

Harga emas hanya bergerak sedikit pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Data manufaktur yang kuat mengangkat selera risiko investor dan mampu melawan keraguan akan perang dagang Amerika Serikat dengan China.

Mengutip CNBC, Rabu (18/12/2019), harga emas di pasar spot ditutup di angka USD 1.476,46 per ounce, hanya sedikit berubah dibanding penutupan sebelumnya. Sedangkan harga emas berjangka AS naik tipis 0,01 persen ke level USD 1.480,6 per ounce.

Data output manufaktur AS pada November menunjukkan perbaikan dan berada di atas estimasi dari para analis dan ekonom. Dengan data manufaktur yang baik tersebut membawa Wall Street ke zona hijau dan mendekati level tertinggi dan menekan harga emas.

“Perdagangan kali ini menjadi persaingan antara harga emas dengan bursa saham,” jelas Kepala Investasi Cabot Wealth Management, Rob Lutts.

Menurutnya, meskipun harga emas tak banyak berubah tetapi ada risiko yang bisa terjadi atau ada kemungkinan penurunan harga emas dalam jangka pendek.

Hal tersebut tergantung dari keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve (The Fed). Jika memang Bank Sentral AS mampu menciptakan suasana yang mendorong pertumbuhan ekonomi maka harga emas akan mengalami tekanan.

Sementara itu, AS mengklaim telah menyelesaikan atau mencapai mufakat dengan China di tahap awal mengenai perang dagang. Namun memang masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dari kesepakatan tersebut.

KONTAK PERKASA FUTURES