kontak Perkasa Futures | Saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (kode saham: AISA) merosot tajam hingga 24,9 persen di penutupan perdagangan Jumat (21/7). Terjun bebasnya saham AISA bertepatan dengan penggerebekan gudang beras milik anak usahanya PT Indo Beras Unggul (IBU) oleh kepolisian.

Berdasarkan keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), AISA memiliki sejumlah nama beken di jajaran komisarisnya. Yakni mantan menteri pertanian Anton Apriyantono sebagai komisaris utama dan Bondan Haryo Winarno sebagai anggota komisaris.

Pemegang saham AISA didominasi oleh PT Tiga Pilar Corpora dengan prosentase 28,13 persen dan masyarakat sebesar 34,9 persen. Bidang usaha utama AISA ialah industri mie.

Sebelumnya, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri menggerebek gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU) di Bekasi. Diketahui PT IBU merupakan produsen beras merek Maknyuss dan Cap Ayam Jago.

Karopenmas DivHumas Mabes Polri Brigjen Rikwanto menjelaskan awal mula temuan penyidik hingga akhirnya menggerebek gudang beras PT IBU.

“Varietas padi IR64, Ciherang, dan Impari merupakan varietas yang sekelas (setara), hanya namanya yang berbeda,” ujar Rikwanto dalam pesan singkat, Minggu (23/7).

Kemudian, lanjutnya, subsidi yang dimaksud adalah subsidi pupuk, alsintan, benih dan lain-lain yang digunakan oleh petani untuk menghasilkan beras yg berasal dari varietas IR64 atau yang setara (impari dan ciherang).

“Beras tersebut dibeli oleh PT. IBU dengan harga Rp. 7.000, selanjutnya dipoles kemudian dijual dengan harga Rp. 20.400 (200 persen dari harga pembelian).”

Rikwanto menambahkan, padahal beras jenis premium maupun medium sebenarnya berasal dari ciherang dan impari, yang sekelas dengan IR64 yang kandungan karbohidratnya tidak akan berubah setelah dilakukan proses pemolesan.

BACA JUGA  : ratusan KIS ditemukan di sungai Blitar

“Akibatnya negara dirugikan oleh karena produsen maupun konsumennya merupakan rakyat Indonesia, serta akan berdampak pada inflasi. Kemudian keuntungan ratusan triliun yang dimaksud adalah keuntungan yang dinikmati oleh seluruh middle man untuk sembilan bahan pokok, bukan keuntungan PT IBU saja,” pungkasnya.

Juru bicara PT IBU Jo Tjong Seng membantah pihaknya melakukan pelanggaran. Menurutnya, pihaknya memproduksi beras dengan acuan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Jadi IR 64 itu bisa jadi beras medium dan bisa menjadi beras premium. Mutu SNI diatur berdasarkan parameter fisik bukan varietas,” jelasnya.

Dia juga membantah jika PT IBU telah melakukan monopoli pasar. Sebab, kapasitas produksi mereka dibanding total konsumsi nasional hanya berkisar 0,1 persen.

Kapasitas produksi IBU yang berjalan saat ini 4.000 ton per bulan.

 

Kontak Perkasa Futures