Kontak Perkasa Futures | Diversifikasi pasar bagi komoditas kelapa sawit Indonesia dinilai mendesak dilakukan.

Pasalnya, saat ini kelapa sawit merupakan kepentingan nasional dan sudah menjadi bagian dari kebijakan strategis luar negeri Indonesia.

<<“Indonesia perlu mendiversifikasi negara tujuan ekspor kelapa sawit agar tetap memiliki alternatif pasar walaupun terdapat rencana Uni Eropa (UE) untuk phasing outbiofuel berbasis kelapa sawit pada 2021,” kata Direktur Eksekutif Council for Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar dalam keterangan resmi, Kamis (15/2/2018).

Nilai ekspor produk kelapa sawit melampaui ekspor migas Indonesia, yakni senilai US$15 miliar pada 2017. Angka itu juga jauh melampaui ekspor lima komoditas perkebunan utama Indonesia lainnya seperti karet, kakao, kopi, tebu, dan teh.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017 mencapai US$22,97 miliar atau naik 26% dari realisasi setahun sebelumnya yang sebesar US$18,1 miliar. Capaian itu sekaligus menyumbang 12,3% dari total ekspor nasional pada 2016.

Tujuan ekspor utama kelapa sawit Indonesia saat ini adalah India dengan porsi 34%, UE sebesar 18%, Tiongkok sebanyak14%, Pakistan sekitar 10%, dan Bangladesh dengan 6%.

Kelapa sawit juga memiliki nilai strategis terhadap upaya pemerintah dalam hal pemerataan pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Dono Boestami menyebutkan sektor kelapa sawit diperkirakan mampu mengurangi angka kemiskinan lebih dari 10 juta orang. Selain itu, minimal 1,3 juta orang di pedesaan diklaim mampu keluar dari garis kemiskinan berkat pertumbuhan sektor kelapa sawit.

Saat ini, perkebunan kelapa sawit berkontribusi terhadap 5,5 juta lapangan pekerjaan serta mendukung kehidupan 12 juta orang. Dalam hal ini, kelapa sawit berkontribusi terhadap upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya terkait tujuan pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, pengembangan energi terbarukan, dan penyediaan pangan.

Untuk itu, tahun lalu Presiden Joko Widodo memberikan perhatian khusus dan menjadikan sektor kelapa sawit sebagai sektor strategis, antara melalui replanting dan pemberian sertifikat lahan kepada petani kecil.

Namun, ekspor komoditas ini diakui terus menghadapi banyak tantangan dan hambatan akses pasar, baik dalam bentuk tarif maupun non tarif. Isu lain yang menjadi sorotan adalah lingkungan, kesehatan, hak asasi manusia, dan lainnya.

Untuk itu, para pengusaha berharap perwakilan Indonesia di luar negeri dapat menyuarakan paradigma baru kelapa sawit sebagai komoditas penting bagi kesejahteraan petani kecil dan pencapaian SDGs, khususnya kepada negara-negara konsumen yang memiliki perspektif negatif terhadap kelapa sawit.

 

Kontak Perkasa Futures