PT Kontak Perkasa – Penurunan harga minyak mentah berlanjut pada perdagangan Senin (5/2/2018) karena merosotnya bursa saham dan pasar obligasi merongrong prospek permintaan di tengah meningkatnya produksi minyak mentah AS.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret ditutup melemah 2% atau 1,30 poin ke level US$64,15 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 69% di atas rata-rata 100 hari perdagangan terakhir.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak April ditutup melemah 0,96 poin ke level US$67,62 pada bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global ini diperdagangkan lebih mahal US$3,79 dibanding WTI kontrak April.

Dilansir Bloomberg, pasar saham global melemah dan kepercayaan investor turun di pasar negara berkembang. Sektor energi pada indeksk S&P 500 turun 4,4% pada hari Senin, dipimpin oleh saham Chesapeake Energy Corp. dan Hess Corp yang melemah masing-masing 7,2% dan 6,9%.

Sementara itu, jumlah rig pengeboran minyak shale di AS melonjak hingga level tertinggi dalam lebih dari lima bulan terakhir pekan lalu, menandakan produksi minyak yang semakin besar.

“Ini imbas dari pasar keuangan dan pasar ekuitas. Orang-orang khawatir bahwa permintaan tersebut mungkin tidak sekuat pada kuartal berikutnya seperti yang diantisipasi,” kata Michael Lynch, presiden Strategic Energy & Economic Research, seperti dikutip Bloomberg.

WTI mencapai level US$66 per barel tahun ini untuk pertama kalinya sejak 2014, melanjutkan penguatan yang didorong oleh keputusan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan output.

Walaupun awal yang kuat dari minyak mentah tahun ini juga dibantu oleh berkurangnya persediaan AS dan melemahnya dolar, analis telah kekhawatiran bahwa lonjakan potensial output minyak shale AS dapat menekan harga.

“Ada lebih banyak pasokan yang masuk ke pasar ini, dan kita memasuki masa pemeliharaan kilang minyak,” ungkap John Kilduff, mitra di Again Capital LLC.

Data Baker Hughes yang dirilis Jumat pekan lalu menunjukkan pengebor di AS menambahkan enam rig pengeboran sehingga jumlah rig aktif mencapai 765, tertinggi

 

PT Kontak Perkasa