Kontak Perkasa Futures  – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah dan lanjut turun lebih dari satu persen pada awal perdagangan hari ini, Jumat (9/2/2018), seiring pelemahan bursa regional.

IHSG hari ini dibuka turun 0,82% atau 53,35 poin di level 6.491,29. Pergerakannya kemudian melorot 1,06% atau 69,57 poin ke level 6.475,06 pada pukul 09.05 WIB.

IHSG kembali memerah setelah mampu menetap di zona hijau dua hari berturut-turut sebelumnya. Adapun pada perdagangan Kamis (8/2), IHSG berakhir di zona merah dengan kenaikan 0,15% atau 9,76 poin di posisi 6.544,63.

Sebanyak 1 saham menguat, 42 saham melemah, dan 528 saham stagnan dari 571 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pagi ini.

Seluruh sembilan indeks sektoral IHSG bergerak di zona merah dengan tekanan utama sektor industri dasar (-2,28%), sektor tambang (-1,71%), dan properti (-1,52%).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis27 melorot 1,18% atau 6,99 poin ke 587,27 pada pukul 09.06 WIB, setelah dibuka dengan pelemahan 1,21% atau 7,21 poin di posisi 587,05.

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara terpantau juga melemah pagi ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-1,64%), indeks FTSE KLCI Malaysia (-1,14%), dan indeks PSEi Filipina (-1,89%).

Dilansir Reuters, bursa Asia merosot pada perdagangan pagi ini setelah bursa saham Amerika Serikat kembali mengalami penurunan besar di tengah kekhawatiran kenaikan imbal hasil obligasi.

Indeks saham MSCI Asia Pacific di luar Jepang terpantau melemah 0,8%, sedangkan indeks Nikkei 225 merosot 2,92% pada pukul 9.34 waktu Tokyo (7.34 WIB).

Indeks MSCI, yang mencapai rekor tertinggi pada 29 Januari, berada di jalur untuk pelemahan enam hari berturut-turut dan turun menjadi sekitar 6% pekan ini. Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1,42%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan turun 2,3%.

“Tahap koreksi di pasar saham bisa bertahan sepanjang Februari dan mungkin sampai bulan Maret,” kata Masahiro Ichikawa, analis senior di Sumitomo Mitsui Asset Management, seperti dikutip Reuters, Jumat (9/2/2018).

“Kenaikan imbal hasil AS jangka panjang akan menyesuaikan agar fase koreksi berakhir. Lonjakan volatilitas juga mendorong investor untuk menjual aset berisiko, sehingga makin meningkatkan volatilitas,” lanjutnya.

Pasar AS tetap menjadi pusat aksi jual global, dengan indeks Dow Jones merosot 4,1% ke level 23.860,46, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 tenggelam 3,7% pada perdagangan Kamis.

Anjloknya Wall Street Kamis menandai perubahan tajam dalam beberapa sesi terakhir termasuk penurunan terbesar indeks S&P 500 dalam lebih dari enam tahun terakhir, yang menarik indeks menjauhi rekor tertinggi.

Bursa saham AS tersebut mulai goyah sejak Jumat pekan lalu setelah data non-farm payroll AS yang sehat memicu lonjakan imbal hasil obligasi dan kekhawatiran kenaikan inflasi yang yang dapat memicu kenaikan suku bunga bank sentral.

Imbal hasil yang lebih tinggi berdampak negatif bagi saham karena meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan mengurangi risk-appetite. Kenaikan imbal hasil juga memberikan alternatif baru bagi investor, yang mungkin memilih untuk mengalokasikan sebagian uang mereka dari saham ke obligasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik setinggi 2,884% pada hari Kamis, tepat di bawah level tertinggi empat tahun Senin di level 2,885%.

Saham-saham yang melemah pada awal perdagangan:

BBCA -1,27%
ASII -1,49%
TLKM -1,24%
BMRI -1,22%

Saham-saham yang menguat pada awal perdagangan:

UNVR +0,23%

Sumber: Bloomberg

Kontak Perkasa Futures