PT Kontak Perkasa Futures | Bos Toyota Motor Corporation Akio Toyoda dalam sebuah rekaman presentasi menyampaikan bahwa Jepang tidak memiliki banyak sumber daya alam untuk sektor energi.

Tapi itu bukan berarti Jepang miskin energi. Sebaliknya, Jepang berinovasi dengan membuat energi alternatif yang kini dan di masa depan menjadi populer karena mampu menekan emisi karbon serendah mungkin.

Satu di antaranya adalah hidrogen. Hidrogen menjadi sumber tenaga utama bagi Fuel Cell Vehicle (FCV) seperti Toyota Mirai. Mobil ini dikenal sebagai kendaraan dengan zero emisi karena tidak mengalami pembakaran layaknya mobil konvensional.

Mirai, yang dalam bahasa Jepang memiliki arti masa depan, digerakkan oleh motor listrik. Sumber tenaga listrik ini dihasilkan dari campuran hidrogen dengan oksigen. Campuran ini menghasilkan reaksi kimia berupa listrik untuk kemudian menggerakkan motor dan menjalankan roda.

Emisinya? Nol. Hanya berupa tetesan air karena tidak ada pembakaran pada mesin. Maka Mirai juga tidak menghasilkan CO2 maupun SOC (Substance of concern) sebagai efek dari pembakaran. Mirai telah diproduksi massal sejak 2014. Mobil ini telah dipasarkan di Jepang, Amerika Utara, dan Eropa.

President Advanced R & D Engineering Toyota Motor Corporation Kiyota Ise mengatakan bahwa Toyota berkomitmen untuk mengurangi emisi di masa mendatang.

“Kami memiliki program bertahap yang saat ini sedang dikembangkan, yakni hybrid vehicle, plug-in hybrid vehicle, fuel cell vehicle, dan golnya electric vehicle pada 2050,” kata Ise di Hama Wing Plant, Yokohama, Jepang, 26 Oktober 2017.

Untuk saat ini, lanjut dia, FCV merupakan model yang ideal dan realistis untuk eco-car.  Menurut Ise, saat ini total market ramah lingkungan di dunia saat ini masih rendah. Market mobil bertenaga baterai baru 1 persen. Sedangkan mobil hybrid baru 3 persen. “Kami menargetkan 15 juta unit pada 2020,” ujarnya.

Secara total, kata dia, penjulan mobil listrik (hybrid, plug-in hybrid, fuel cell, dan ev Toyota) kini telah mencapai 11 juta unit di seluruh dunia.

Menurut Ise, Toyota menyadari bahwa pengembangan sumber energi terus dilakukan. Untuk hirdogen misalnya, Toyota bekerja sama dengan pemerintah perfektur (provinsi) Kanagawa, Kota Yokohama, Kota Kawasaki, serta Iwatani Corp dan Toshiba Corp mengembangkan pembangkit listrik yang mampu menghasilkan hidrogen.

Sebuah area di pinggir pantai di Kanagawa menjadi area pembangkit listrik. Lokasi ini berdekatan dengan pangkalan militer Jepang. Di tengah area seluas dua kali lapangan sepak bola itu terdapat menara tinggi menjulang, kira-kira 30 meter. Di puncak menara, terdapat tiga bilah baling-baling raksasa.

Nah, baling-baling raksasa inilah yang menangkap angin, kemudian energi dari angin ini menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik (1.980 kilo Watt). Energi listrik kemudian diolah sedemikan rupa yang kemudian melalui reaksi kimia (dengan air) menghasilkan hidrogen yang dipadatkan dengan kompresi tinggi. Hidrogen inilah yang kemudian digunakan untuk mengisi tenaga forklift buatan Toyota, menggantikan bahan bakar fosil.

General Manager New Business Planning Division Toyota Motor Corporation Naomichi mengatakan bahwa hidrogen tidak saja dapat diandalkan untuk menggerakkan mobil, tapi juga untuk forklift, truk, bus, hingga peralatan rumah tangga. “Hama Wing merupakan proyek untuk mengembangkan energi alternatif seperti hidrogen. Harapannya, produksinya bisa diperbanyak sehingga menjadi lebih murah di masa mendatang,” kata Mata.

Hidrogen yang sudah disimpan dalam tangki bertekanan tinggi, lalu dipindahkan ke truk pengisian. Hidrogen kemudian diisikan ke dalam tangki di bagian tengan forklif melalui sebuah selang. Pengisian itu hanya memerlukan waktu 3 menit dengan lama penggunaan hingga 8 jam.

Sama seperti Toyota Mirai, forklift fuel cell ini juga tak menghasilkan CO2. Satu model lagi yang bakal menggunakan hidrogen adalah bus Toyota SORA Fuel Cell. Toyota menargetkan 100 unit bus SORA beroperasi pada 2020 mendatang.
PT Kontak Perkasa Futures