PT KONTAK PERKASA FUTURES  – Harga minyak mentah dunia naik dipicu langkah Amerika Serikat (AS) yang meminta negara pembeli minyak Iran menghentikan pembelian mulai 1 Mei atau menghadapi sanksi. Ini menjadi sebuah langkah untuk mematahkan pendapatan minyak Teheran yang mengirim harga minyak mentah ke posisi tertinggi enam bulan di tengah kekhawatiran potensi krisis pasokan.

Melansir laman Reuters, harga minyak mentah patokan internasional Brent naik menjadi lebih dari USD 74 per barel pada hari Senin, tertinggi sejak November. Kenaikan dipicu karena ketidakpastian seputar peningkatan pasokan dari Arab Saudi dan negara-negara OPEC lainnya. Sementara harga minyak AS mencapai puncak USD 65,92 per barel, tertinggi sejak Oktober 2018.

“Meskipun harga minyak tinggi dan naik cepat dan risiko gangguan geopolitik tinggi, (Trump) bertaruh bahwa Arab Saudi dan UEA akan mendapatkan tekanan harga naik mengimbangi minyak Iran,” kata Robert McNally, Presiden Rapidan Energy Group, perusahaan konsultasi energi.

Pemerintahan Trump pada hari Senin mengatakan tidak akan memperbarui pengecualian yang diberikan tahun lalu kepada pembeli minyak Iran. Langkah pengetatan diperkirakan membuat beberapa importir kunci telah meminta Washington untuk terus memberikan izin mereka membeli bebas minyak Iran tanpa sanksi.

AS kembali menerapkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran pada November, setelah Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia untuk mengekang program nuklir Teheran.

Delapan ekonomi, termasuk Cina dan India, diberikan keringanan selama enam bulan, dan beberapa mengharapkan pengecualian itu akan diperbarui.

Teheran tetap menentang, dengan mengatakan pihaknya siap untuk pengabaian, sementara Pengawal Revolusi mengulangi ancaman untuk menutup Selat Hormuz, saluran pengiriman minyak utama di Teluk, media Iran melaporkan.

Gedung Putih mengatakan pihaknya bekerja sama dengan eksportir minyak utama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk memastikan pasar dipasok secara memadai.

Pedagang, yang sudah resah tentang pasokan yang ketat, menimbulkan keraguan tentang apakah pendekatan yang lebih ketat ini, bersama dengan sanksi yang berkelanjutan pada Industri minyak Venezuela, bisa menjadi bumerang dalam bentuk lonjakan besar harga.

Ekspor minyak Iran telah turun menjadi sekitar 1 juta barel per hari (bph) mencapai lebih dari 2,5 juta bph sebelum diberlakukannya kembali sanksi.

Sekretaris Negara AS Mike Pompeo, mengatakan “kita akan membuatnya (ekspor0 Iram menjadi nol,” seraya mengatakan jika Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk masa tenggang di luar 1 Mei.

Di sisi lain, Seorang pejabat senior administrasi mengatakan Presiden Donald Trump yakin Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akan memenuhi janji mereka untuk mengkompensasi kekurangan dipasar minyak.

Namun, Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih, dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, tidak berkomitmen untuk meningkatkan produksi, dengan mengatakan pihaknya “memantau perkembangan pasar minyak” setelah pernyataan AS. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan produsen minyak lainnya untuk memastikan keseimbangan pasar. OPEC dijadwalkan bertemu pada bulan Juni.

PT KONTAK PERKASA FUTURES