PT KONTAK PERKASA FUTURES – Sejumlah emiten yang mengandalkan pasar domestik meracik strategi agar tetap mendulang untung walaupun rupiah melemah.

Terjerembabnya rupiah ke level Rp14.000-an per dolar AS pada bulan ini memang mengejutkan pasar modal dan pelaku usaha. Untungnya pada penutupan perdagangan Senin (28/5), rupiah berhasil menguat 130 poin atau 0,92% menjadi Rp13.995 per dolar AS. Namun, harga masih menurun 3,25% sepanjang tahun berjalan

Chief Marketing Officer PT Hexindo Adiperkasa Tbk. (HEXA) Djonggi Gultom menyampaikan, melambungnya nilai tukar rupiah tidak menjadi masalah besar bagi usaha penjualan alat berat perseroan yang mengusung merk Hitachi ini. Pasalnya, perusahaan sudah bisa memproduksi alat berat kelas 10 ton–30 ton di dalam negeri, meskipun sejumlah komponen masih disuplai melalui impor.

Mulai pertengahan 2017 perusahaan menaikan harga seiring dengan meningkatnya permintaan alat berat. Perolehan margin dari penjualan alat berat pun naik menjadi 12%-13% dari sebelumnya 7%, sedangkan margin spare part mencapai 30%.

“Sebagian besar alat berat sudah bisa kami produksi di dalam negeri. Jika adanya kenaikan harga alat berat akibat kurs, kami bebankan kepada konsumen,” ujarnya baru-baru ini.

Untuk persediaan komponen spare part, HEXA masih mengandalkan impor sepenuhnya. Oleh karena itu, penjualan dilakukan bergantung kepada pesanan pelanggan.

Pada tahun fiskal 2017, yakni April 2017–Maret 2018, pendapatan perusahaan dari segmen spare part mencapai 51% dari total nilai penjualan.

Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Tbk. (CPIN) Tjiu Thomas Effendy menyampaikan, pelemahan rupiah memengaruhi dua hal dalam kinerja perusahaan, yakni harga impor bahan baku dan pinjaman dalam mata uang dolar AS.

Bahan baku impor seperti bungkil kedelai mencakup 30% dari keseluruhan komponen pakan ternak. Dengan adanya fluktuasi rupiah, biaya pembelian bahan baku, sehingga harga jual pakan kepada konsumen menanjak.

Untungnya, sambung Thomas, komoditas jagung yang berkontribusi 50% dalam komponen pakan ternak seluruhnya berasal dari domestik. Harganya pun cenderung lebih stabil di kisaran Rp3.500–Rp3.700 per kg.

“Karena sekarang jagung sudah 100% dari domestik, fluktuasi rupiah tidak terlalu signifikan terhadap ongkos bahan baku,” tuturnya.

Dari sisi pinjaman, sejak 3 tahun lalu CPIN mengubah komposisi utang dalam mata uang dolar dan rupiah dari 50:50 hingga kini menjadi 20:80. Hal ini membuat pendanaan perusahaan lebih terkontrol.

Wakil Presiden Direktur PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA) Sudarmo Tasmin menyampaikan, untuk mengantisipasi risiko nilai tukar, pinjaman perusahaan kepada perbankan dalam jangka panjang lebih banyak menggunakan rupiah.

Mengutip laporan keuangan per Maret 2018, utang bank jangka panjang dalam rupiah sebesar Rp2,05 triliun, sedanglan dalam dolar AS senilai Rp476,30 miliar.

Adapun dalam penerbitan global bond, perseroan melakukan perjanjian USD call spread option dan cross currency swap dengan beberapa pihak ketiga sebagai lindung nilai.

Sebagai informasi, pada Januari 2018, anak usaha TBLA, yakni TBLA International Pte. Ltd. menerbitkan global bond senilai US$200 juta dengan bunga 7% per tahun.

Dari sisi operasional, penjualan gula rafinasi paling terdampak risiko kurs, karena 100% bahan baku merupakan impor. Oleh karena itu, kenaikan harga bahan baku akan dibebankan kembali kepada konsumen.

“Untungnya harga gula global sedang tertekan, jadi kami tidak perlu menaikan harga gula rafinasi terlalu tinggi ke pasar,” tuturnya.

Sudarmo menyampaikan, perseroan juga melihat peluang meningkatkan kontribusi pasar ekspor menjadi 30% untuk mendorong pendapatan di tengah melesunya rupiah. Per Maret 2018, realisasi penjualan domestik mencapai Rp2,89 triliun, sedangkan ekspor Rp524,09 miliar.

Menurutnya, dalam setahun biasanya kontribusi pasar ekspor mencapai 25%. Salah satu produk untuk pasar luar negeri ialah minyak goreng merk Rose Brand.

Sementara itu, PT Astra International Tbk. akan mengoptimalkan kandungan komponen lokal pada kendaraan yang diproduksi perseroan, untuk menangkal dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, pada harga produk Astra.

Saat krisis keuangan 1998, Astra mulai meningkatkan kandungan lokal pada komponen kendaraaan. Hingga akhir tahun lalu, tingkat komponen lokal pada kendaraan roda dua produksi perseroan mencapai lebih dari 90%.

Direktur Independen Astra International Djony Bunarto Tjondro mengungkapkan sejauh ini perseroan belum terdampak signifikan dari pelemahan nilai tukar. Selain itu, perseroan akan meningkatkan porsi kendaraan yang diekspor sehingga dapat mengompensasi risiko penurunan pendapatan di pasar domestik.

“Tahun lalu, kita mengespor 231.000 unit kendaraan, di mana 75% di antaranya merupakan produksi kendaraan Astra. Tahun ini, kami aiming ekspor Astra bisa naik sedikit karena ada tambahan Negara destinasi ekspor baru,” ungkap Djony.

Data perseroan menunjukkan sepanjang tahun lalu, ekspor melalui Astra Honda Motor tercatat sebanyak 83.000 unit, sedangkan ekspor melalui Toyota Motor Manufacturing Indonesia mencapai 115.000 unit.

PT KONTAK PERKASA FUTURES