PT KONTAK PERKASA FUTURES  – Harga minyak mentah anjlok pada perdagangan Senin (16/7/2018), saat keresahan perdagangan global yang bercampur aduk dengan tawaran Arab Saudi menambah suplai minyak mentah untuk Asia meningkatkan volatilitas pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus 2018 anjlok US$2,95 dan berakhir di US$68,06 per barel di New York Mercantile Exchange, level terendah dalam tiga pekan.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman September 2018 anjlok US$3,49 dan berakhir di US$71,84 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$4,77 terhadap WTI untuk bulan yang sama serta ditutup di bawah rata-rata pergerakan 100 hari untuk pertama kalinya sejak Maret, mengindikasikan sinyal bearish.

Dilansir dari Bloomberg, harga minyak anjlok 4,2% di New York pada perdagangan Senin, setelah terjerembap sekitar 5% pada Rabu pekan lalu. Hal ini meningkatkan ukuran volatilitas ke level tertingginya dalam sekitar setahun.

Mengutip sumber terkait, Bloomberg mengabarkan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah jenis Arab Extra Light kepada setidaknya dua pembeli di Asia untuk bulan Agustus, setelah memasok volume kontrak penuh kepada pelanggan di kawasan tersebut.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan mempertimbangkan pelepasan minyak dari suplai minyak darurat AS yakni Strategic Petroleum Reserve (SPR) demi melemahkan kenaikan harga minyak. Opsi yang dipertimbangkan mulai dari uji penjualan sebesar 5 juta barel hingga pelepasan 30 juta barel dari SPR.

“Ini sangat mirip dengan reaksi lanjutan atas potensi peningkatan pasokan,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities.

“Kombinasi dari efek sisi penawaran dan potensi permintaan yang lebih sedikit sebagai akibat dari perselisihan perdagangan yang kita lihat, mendorong pelaku pasar untuk melepaskan posisi dari minyak saat ini.”

Saat Arab Saudi mengambil langkah memenuhi janjinya untuk mengimbangi penurunan pasokan dari negara-negara OPEC lainnya, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan OPEC dan sekutunya dapat meningkatkan produksi lebih dari 1 juta barel per hari jika diperlukan.

Pada saat yang sama, para investor fokus pada perselisihan perdagangan antara AS dan China. Minyak mentah terbebani kekhawatiran bahwa permintaan global akan dirugikan oleh ketegangan perdagangan antara kedua negara, setelah harga mencapai level tertinggi tiga tahun bulan lalu akibat prospek dari krisis pasokan.

PT KONTAK PERKASA FUTURES